AS dan China Sepakat Denuklirasi Korut

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mengonfirmasi tujuan bersamamereka untuk menghapuskan penggunaan senjata nuklir oleh Korea Utara (Korut), menurut lembar fakta yang dirilis Gedung Putih pada Minggu (17/5).

Selain denuklirasiKorut, lembar fakta hasil pertemuan puncak Trump-Xi selama dua hari di Beijing pada akhir pekan lalu itu juga menentang penerapan tarif tol di Selat Hormuz.

Dilansir ANTARA dari Kyodo, menurut Washington, China juga akan menanggapi kekhawatiran Amerikaterkait kekurangan rantai pasok logam tanah jarang dan mineral penting lain, penjualan peralatan dan teknologi produksi, serta pemrosesan logam tanah jarang.

Dokumen tersebut tidakmembahas soalTaiwan, pulau denganpemerintahan sendiri tetapi diklaim oleh Beijing, meskipun saat pertemuan tersebut Xi memperingatkantentang potensi konflik antara dua negara terkuat di dunia jika isu tersebuttidak ditangani dengan baik.

Kemudian, masih dalam lembar fakta tersebut, soalperang AS-Israel melawan Iran, Trumpdan Xi sepakat Teheran tidak bolehmemiliki senjata nuklir,Selat Hormuzharus dibuka kembali, sertatidak ada negara atau organisasi boleh memungut tariftol di jalur tersebut.

Di bidang ekonomi, China akan membeli produk pertanian Amerika senilai17 miliar dolar AS (sekitar Rp300 triliun) per tahun hingga 2028, selain pembelian kedelai yang telah disepakati pada Oktober 2025.

Chinajuga menyetujui pembelian awal 200 pesawat buatanBoeing untuk maskapai penerbangan China.

AS dan China juga membentuk dua institusi baru, yakni Dewan Perdagangan dan Dewan Investasi, untuk mengoptimalkan hubungan ekonomi bilateral.

Dewan Perdagangan akan memungkinkan kedua pemerintah mengelola perdagangan bilateral untuk barang-barang non-sensitif, sementara Dewan Investasi akan menjadi forum antar-pemerintah untuk membahas isu-isu terkait investasi.

Trump dan Xi sebelumnya menyepakati gencatan perang dagang selama satu tahun saat mereka bertemu di Korea Selatan pada Oktober 2025, yang membantu meredakan ketegangan setelah kedua negara mengenakan lonjakan tarif satu sama lain hingga mencapai tiga digit.

Kesepakatan itu juga mencakup penundaan kontrol ekspor baru China terhadap mineral langka yang penting untuk pembuatan produk berteknologi tinggi, serta komitmen Beijing membeli sedikitnya 25 juta ton kedelai AS pada tahun 2026, 2027, dan 2028.