Perang Iran Ganggu LNG, Jepang dan Korea Selatan Balik ke Batu Bara

JAKARTA - Jepang dan Korea Selatan menaikkan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik setelah perang Iran mengganggu pasokan LNG dan membuat harga gas alam cair itu melonjak.

Dikutip dari Kyodo News, Rabu, 13 Mei, data pasar menunjukkan pasokan listrik berbasis gas di Jepang pada April turun ke level terendah dalam dua tahun. Di Korea Selatan, pasokan listrik berbasis gas jatuh ke level terendah dalam enam bulan.

LNG atau gas alam cair adalah gas yang didinginkan hingga berubah menjadi cair agar lebih mudah dikirim lewat kapal. Jepang dan Korea Selatan selama ini menjadi dua pembeli besar LNG di Asia.

Perubahan pola energi itu terjadi setelah serangan balasan Iran terhadap serangan AS-Israel melumpuhkan 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar, pemasok LNG terbesar kedua dunia.

“Semakin lama perang ini berlanjut, semakin banyak peralihan yang akan kita lihat,” kata Andre Lambine, analis kelistrikan S&P Global Energy dikutip Kyodo.

Di Jepang, pasokan listrik dari batu bara naik 11,1 persen pada April. Pada saat yang sama, listrik berbasis gas turun 12,9 persen menjadi 16.447 gigawatt-jam atau GWh.

GWh adalah satuan untuk mengukur produksi atau konsumsi listrik dalam jumlah besar.

Analis gas senior ICIS, Fei Xu, mengatakan kenaikan listrik batu bara di Jepang menggantikan sekitar empat kargo LNG pada April. Langkah itu membantu menjaga persediaan LNG Jepang tetap dekat dengan rata-rata lima tahun.

Di Korea Selatan, listrik berbasis batu bara melonjak 39,7 persen secara tahunan menjadi 10.733 GWh pada April. Ini kenaikan tertajam sejak Agustus 2019. Sebaliknya, listrik berbasis gas turun 6,4 persen.

Pasokan listrik nuklir juga turun. Di Jepang, penurunannya 2,7 persen secara tahunan pada April. Di Korea Selatan, turun 14,6 persen. Penurunan berlanjut pada 10 hari pertama Mei.

Kondisi itu membuat batu bara kembali menjadi penyangga. Pada Mei, pasokan listrik batu bara naik 18,3 persen di Jepang dan 14,7 persen di Korea Selatan. Pada periode sama, listrik berbasis gas turun masing-masing 23,4 persen dan 12,2 persen.

Gelombang panas di Asia Tenggara ikut memperbesar kebutuhan listrik. Di Vietnam, produksi listrik batu bara naik 12,3 persen ke rekor 17.864 GWh bulan lalu.

DBX Commodities memperkirakan impor batu bara termal Asia pada Mei, di luar China dan India, naik 9,4 persen menjadi 31 juta metrik ton. Data Kpler juga menunjukkan impor batu bara listrik Vietnam melonjak ke rekor 5,4 juta ton pada April.

Harga LNG spot Asia telah naik 62 persen sejak awal perang. Kenaikan itu jauh lebih tinggi dibanding patokan harga batu bara Newcastle yang naik 13 persen.

“Nilai batu bara kini makin ditentukan oleh keamanan pasokan, bukan sekadar ekonomi,” kata CEO DBX Commodities Alexandre Claude dikutip Kyodo.