Selat Hormuz Memanas, ASEAN Mulai Khawatir Jalur Dagang Terganggu

JAKARTA - Ketegangan di Timur Tengah mulai terasa sampai Asia Tenggara. Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. mengingatkan negara-negara ASEAN agar tidak lengah menghadapi ancaman gangguan jalur laut global, terutama setelah konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu ketidakpastian di Selat Hormuz.

Mengutip Philippine News Agency (PNA), Jumat, 8 Mei, pesan itu disampaikan Marcos saat membuka Sidang Pleno KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Jumat. Ia menyampaikan kalau perdagangan dunia sedang tidak baik-baik saja, dan Asia Tenggara bisa ikut terkena getahnya.

Selat Hormuz bukan jalur laut biasa. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu koridor utama pengiriman energi dunia. Jika jalur itu terganggu, efeknya bisa merembet ke mana-mana. Harga energi naik. Ongkos logistik melonjak. Barang impor makin mahal. Negara seperti Indonesia pun sulit benar-benar aman dari dampaknya.

“Perkembangan ini telah mengganggu jalur transportasi laut dan udara, meningkatkan risiko bagi kapal niaga serta kapal dan pesawat nonkombatan, serta memengaruhi arus energi dan barang-barang penting,” kata Marcos dikutip PNA.

Karena itu, Filipina mendorong ASEAN memperkuat kerja sama maritim. Salah satu usulan yang dibawa Manila adalah pembentukan Pusat Maritim ASEAN. Lembaga ini diharapkan menjadi ruang koordinasi antarnegara anggota dalam menghadapi ancaman keamanan laut dan gangguan jalur perdagangan.

Usulan itu muncul di tengah makin padatnya tekanan geopolitik di kawasan. Laut China Selatan belum reda. Jalur perdagangan global mulai rawan. Kini Timur Tengah ikut memanaskan situasi.

Marcos mengatakan ASEAN perlu memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas kawasan dan ketahanan ekonomi. Para pemimpin ASEAN juga diperkirakan mengadopsi Deklarasi Para Pemimpin ASEAN tentang Kerja Sama Maritim dalam forum tersebut.

Selain soal perdagangan dan keamanan laut, Marcos kembali menyerukan penyelesaian sengketa secara damai, perlindungan warga sipil, serta pemulihan jalur transit yang aman dan tanpa hambatan di Selat Hormuz.

KTT ASEAN di Cebu mempertemukan para pemimpin dari 11 negara anggota. Forum ini berlangsung ketika ASEAN menghadapi tekanan baru dari konflik global, terutama pada jalur laut dan perdagangan energi.