Australia Alokasikan Tambahan Dana Rp125,8 Triliun untuk Ketahanan Energi

JAKARTA - Pemerintah Australiamengalokasikan tambahan dana 7,23 miliar dolar AS (Rp125triliun) untuk meningkatkan cadangan bahan bakar dan menciptakan persediaan darurat guna memperkuat keamanan negaranya di tengah konflik Timur Tengah.

Dilansir ANTARA dari Sputnik, Kamis, 7 Mei, paket tambahan dana itu mencakup sekitar 5,5 miliar dolar AS (Rp95triliun) dalam bentuk dukungan keuangan untuk perusahaan migas serta sekitar 2,7 miliar dolar AS (Rp46,8 triliun) untuk cadangan bahan bakar nasional bagi sekitar 1 miliar literdiesel dan bahan bakar jet, menurut siaran AustralianBroadcastingCorporation (ABC), Rabu.

Pemerintah Australia juga sedang menjajaki kebutuhan dan kelayakan pembangunan kilang baru atau memperluas kilang yang sudah ada.

Berdasarkan rencana yang diusulkan Pemerintah Australia, cadangan bensin di negara itu dilaporkan akan meningkat menjadi untuk kebutuhan 37 hari dan cadangandiesel dan bahan bakar jet menjadi sekitar 50 hari.

Pada akhir Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran hingga menyebabkan kerusakan dan menelankorban sipil. AS dan Iran pun mengumumkan gencatan senjata selama pada awal April dan melakukan pembicaraan di Islamabadyang berakhir tanpa hasil.

Presiden AS Donald Trumppun memperpanjang gencatan senjata untuk memberi Iran waktu untuk mengajukan "proposal terpadu".

Eskalasi konflik tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utamapengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Akibatnya, harga bahan bakar menjadi naik.

Trumppun sempat mengumumkan Project Freedompada Minggu malam (3/5) untuk membantu kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuzmelanjutkan perjalanan mereka.

Namun, hanya berselang dua hari kemudian, Selasa (5/5),Trumpmemutuskan untuk menghentikan sementara operasi tersebut untuk melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran dapat tercapai.