May Day, Kemenperin Sorot Pekerja Industri: Skill Lama Tak Cukup Hadapi Digitalisasi

JAKARTA - Kementerian Perindustrian menilai pekerja industri tidak cukup hanya mengandalkan keahlian lama di tengah digitalisasi pabrik. Reskilling dan upskilling menjadi kebutuhan mendesak agar tenaga kerja manufaktur tidak tertinggal oleh otomatisasi dan industri 4.0.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan penguatan sumber daya manusia industri menjadi syarat untuk menjaga kinerja manufaktur nasional.

“Industri manufaktur selama ini konsisten menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional. Oleh karena itu, penguatan SDM industri harus terus kita akselerasi melalui pendidikan vokasi, pelatihan berbasis kebutuhan industri, serta penguasaan teknologi digital,” kata Agus dalam keterangan di Jakarta, Jumat, 1 Mei, bertepatan dengan Hari Buruh Internasional.

Agus mengatakan Kemenperin menjalankan pendidikan vokasi melalui 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 SMK di berbagai daerah. Pada 2025, unit pendidikan vokasi Kemenperin menghasilkan 5.472 lulusan sesuai kebutuhan industri manufaktur.

Pelatihan juga digelar lewat 7 Balai Diklat Industri. Sepanjang 2025, sebanyak 1.362 orang dilatih, disertifikasi, dan ditempatkan bekerja melalui program skilling, upskilling, dan reskilling.

Kemenperin juga memfasilitasi 3.969 calon tenaga kerja melalui Program Magang Nasional di perusahaan industri dan instansi kementerian.

Di luar pekerja siap kerja, BPSDMI Kemenperin membina 37 tenant bisnis melalui inkubator Balai Diklat Industri. Program ini menyerap 212 pekerja baru dan membukukan omzet Rp11,5 miliar.

Agus menegaskan transformasi digital industri tidak cukup hanya membeli mesin dan teknologi. Pekerja harus ikut disiapkan agar mampu mengikuti perubahan proses produksi.

“Program reskilling dan upskilling menjadi prioritas agar tenaga kerja kita tetap relevan dan kompetitif,” ujarnya.

Data Kemenperin mencatat tenaga kerja industri pengolahan nonmigas naik dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025.

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi mengatakan serapan lulusan vokasi Kemenperin pada 2025 mencapai 68 persen sesaat setelah lulus dan diproyeksikan 100 persen dalam enam bulan.

BPSDMI juga bekerja sama dengan 48 Lembaga Sertifikasi Profesi serta membuka kelas industri bersama perusahaan dalam dan luar negeri, termasuk untuk penempatan di Korea Selatan dan Jepang.