Perusahaan AI China Gandeng Indonesia, Rebutan Data Makin Sengit
JAKARTA - Rebutan bahan bakar kecerdasan buatan kini makin terasa dekat dengan Indonesia. Menurut laporan China Daily, Kamis, 30 April, perusahaan AI asal Fujian, Joyful Embodied, mulai menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan di Indonesia dan membidik pasar Asia Tenggara.
Kemitraan itu muncul saat penggunaan token AI harian di China melonjak tajam. Token adalah satuan kecil yang dipakai sistem AI untuk membaca dan mengolah teks, gambar, atau perintah pengguna. Makin besar jumlah token, makin besar pula aktivitas AI yang berjalan.
Di China, penggunaan token AI harian naik dari sedikit di atas 1 triliun pada awal 2025 menjadi 100 triliun pada akhir tahun. Pada Maret tahun ini, angkanya sudah mencapai 140 triliun.
Data itu disampaikan Liu Liehong, Kepala Administrasi Data Nasional China, dalam pembukaan KTT Digital China ke-9 di Fuzhou, Provinsi Fujian, Rabu.
Liu menyebut lonjakan tersebut sebagai pertumbuhan eksponensial. Ia mengatakan data kini bukan lagi sekadar “bahan bakar” untuk melatih model AI. Data sudah menjadi faktor produksi yang mendorong penerapan teknologi di dunia nyata.
Baca juga:
Pada 2025, China menghasilkan 52,26 zettabita data, naik 27,28 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, AI dan perangkat lunak sistem menyumbang 26,92 zettabita. Untuk pertama kalinya, kontribusi sektor ini melampaui data dari sensor internet untuk segala atau IoT.
Pola ini memperlihatkan industri AI China tidak lagi hanya mengandalkan data dari perangkat dan sensor. Data baru kini lahir dari penggunaan AI yang makin luas.
Perubahan paling mencolok terlihat pada data inferensi. Dari 199,48 eksabita data yang dipakai untuk pelatihan dan inferensi AI pada 2025, data inferensi mencapai 101,34 eksabita. Ini pertama kalinya data yang muncul saat model AI digunakan melampaui data untuk melatih model.
Dengan kata lain, AI China sudah banyak dipakai di lapangan. Bukan cuma diuji di laboratorium. Teknologi itu masuk ke layanan kesehatan, keuangan, manufaktur, dan tata kelola kota.
China Daily juga melaporkan munculnya infrastruktur baru di balik ledakan data tersebut. Joyful Embodied membangun fasilitas pengumpulan data robotik berskala besar di Fujian. Fasilitas ini dirancang bekerja sepanjang hari untuk merekam data industri berpresisi tinggi.
Robot-robot di fasilitas itu meniru dan merekam pekerjaan fisik yang rumit. Kamera dan sensor menangkap gerakan tersebut, lalu mengubahnya menjadi himpunan data terstruktur untuk melatih embodied AI, yakni AI yang bekerja lewat perangkat fisik seperti robot.
Presiden Joyful Embodied, Chen Yishi, mengatakan sistem otomatis perusahaan itu mampu mencapai efisiensi pengumpulan data hingga 95 persen. Sistem tersebut memadukan persepsi, komputasi, dan eksekusi.
Persaingan AI kini tidak hanya soal cip dan algoritma. Data berkualitas tinggi mulai menjadi rebutan, terutama untuk robotika dan AI yang harus bekerja di dunia nyata.
Dalam kaitan itu, kemitraan Joyful Embodied dengan perusahaan di Indonesia menjadi penting. Perusahaan AI China kini tidak hanya membawa teknologi ke pasar baru. Mereka juga membawa infrastruktur data, bagian paling mahal dalam perebutan ekonomi AI.