Google Kantongi 25 Juta Pelanggan Baru pada Kuartal Pertama 2026
JAKARTA — Alphabet, induk perusahaan Google, mengumumkan bahwa mereka berhasil mengumpulkan 25 juta pelanggan berbayar di sepanjang kuartal pertama tahun ini. Pencapaian ini didorong YouTube dan Google One.
Dengan bertambahnya jumlah pelanggan tersebut, total pelanggan berbayar di seluruh ekosistem Google kini menyentuh 350 juta orang. Jumlah ini meningkat pesat dibandingkan akhir tahun lalu yang tercatat sebanyak 325 juta pelanggan.
Baca juga:
- ZTE Corporation dan XLSMART Resmikan Innovation Center, Dorong Adopsi 5G-Advanced
- Divine Resmi Hadir di App Store dan Google Play, Jadi Pengganti Aplikasi Video Pendek Vine
- Menkomdigi Meutya Pastikan Wikimedia Foundation Patuh Aturan PSE
- Emtek Gandeng Google Cloud, Hadirkan Produksi Konten Premium Berbasis Generative AI
Peningkatan jumlah pelanggan Google One diduga semakin menguat berkat integrasi model Kecerdasan Buatan (AI) Gemini. Dalam paket tertentu, pengguna Google One bisa mengakses model AI premium di paket penyimpanan data mereka.
Meski jumlah pelanggan meningkat, pendapatan iklan YouTube dinilai masih berada sedikit di bawah ekspektasi menurut para analis Wall Street. Hal ini terjadi karena makin banyak pengguna yang beralih ke paket langganan YouTube Premium tanpa iklan.
CEO Alphabet, Sundar Pichai, menjelaskan bahwa penurunan pendapatan iklan merupakan efek samping dari transisi ke model berlangganan. Perusahaan menilai keberhasilan YouTube harus dilihat dari kombinasi pendapatan iklan dan iuran bulanan pelanggan.
Pendapatan iklan YouTube pada kuartal ini tercatat sebesar 9,88 miliar dolar AS (Rp171,5 triliun) atau tumbuh 11 persen secara tahunan. Namun, angka tersebut tetap berada di bawah proyeksi awal para investor sebesar 9,99 miliar dolar AS (Rp173,4 triliun).
Secara keseluruhan, kinerja keuangan Alphabet tetap melampaui ekspektasi pasar dengan total pendapatan mencapai 109,9 miliar dolar AS (Rp1.908 triliun). Sektor layanan cloud juga menunjukkan performa yang baik dengan pendapatan lebih dari 20 miliar dolar AS (Rp347 triliun).