PM Jepang Sanae Takaichi Mengeluh Kurang Tidur
JAKARTA - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dilaporkan mengeluh kurang tidur. Informasi ini dilontarkan seorang politikus senior yang bertemu dengannya pada Kamis.
"Saya ingin tidur sedikit lebih lama," kata perdana menteri berusia 65 tahun itu kepada mantan menteri perdagangan Akira Amari selama pertemuan di kantornya dilansir ANTARA dari Kyodo, Kamis, 23 April.
Amari juga dikenal sebagai ajudan dekat mendiang Perdana Menteri Shinzo Abe.
Takaichi baru menjabat PM Jepang selama enam bulan.
Setelah memenangi pemilu pada Oktober 2025, yang menjadikannya PM perempuan pertama Jepang, Takaichi berjanji untuk “bekerja, bekerja, dan bekerja”—sebuah frasa yang menjadi slogan tahun lalu.
Takaichi pindah ke kediaman resmi perdana menteri akhir tahun lalu bersama suaminya. Tempat tinggalnya kini berjarak dekat dari kantor perdana menteri.
Ia mengatakan dalam rapat komite parlemen pada awal April waktu tidurnya "cukup singkat” karena sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan "sisa waktunya dihabiskan untuk bekerja."
Baca juga:
Takaichi juga mengatakan ia mencoba untuk "membawa pekerjaan ke rumah sebanyak mungkin" karena tinggal di kantor perdana menteri membuat para ajudan dan pengawalnya selalu siaga.
Februari lalu, ia mengeluhkan tentang makanan.
"Saya tidak diizinkan untuk berbelanja atau memesan makanan dari kediaman resmi. Jika saya kehabisan makanan beku, tamatlah sudah,” ujarnya.
Amari mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan mereka Takaichi juga berbicara tentang kesulitan mengatur waktu makan.