Pramono Jajaki Sister City Jakarta–Shenzhen, Fokus Atasi Banjir dan Macet

JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjajaki kerja sama sister city dengan Shenzhen, Tiongkok, sebagai upaya memperkuat penanganan persoalan perkotaan, terutama banjir dan kemacetan.

Pertemuan dengan Executive Vice Mayor Shenzhen Tao Yongxin digelar di Shenzhen, Kamis 23 April, dengan target penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada November 2026, diawali dengan Letter of Intent (LoI).

“Saat ini Jakarta telah menjalin kerja sama sister city dengan Beijing dan Shanghai. Kami berharap dapat menyusun LoI sebagai langkah awal, untuk kemudian dilanjutkan dengan MoU dengan Shenzhen,” ujar Pramono.

Ia menilai Shenzhen relevan sebagai rujukan karena memiliki kemiripan tantangan dengan Jakarta, mulai dari kepadatan penduduk, kemacetan, polusi, hingga banjir.

“Jakarta dengan sekitar 11 juta penduduk, serta kawasan aglomerasi Jabodetabek mencapai 42 juta jiwa, menghadapi persoalan yang dulu juga dialami kota-kota besar di Tiongkok. Kami ingin belajar dari Shenzhen sebagai role model,” jelasnya.

Menurut Pramono, kerja sama ini diharapkan tidak sekadar simbolik, tetapi menjadi ruang pertukaran praktik terbaik dalam pengelolaan kota berkelanjutan, termasuk solusi transportasi dan pengendalian banjir.

Dari pihak Shenzhen, Tao Yongxin menyambut positif rencana tersebut dan mengusulkan kerja sama dimulai dari status friendship city sebelum ditingkatkan menjadi sister city.

“Kami terbuka untuk kolaborasi di bidang teknologi, inovasi, transportasi, hingga hubungan antarmasyarakat seperti pertukaran pelajar dan budaya,” kata Tao.

Ia juga menawarkan kerja sama pengembangan kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk layanan publik.

Sebagai salah satu pusat teknologi dunia, Shenzhen dinilai memiliki pengalaman dalam pengembangan smart city yang dapat menjadi referensi bagi Jakarta dalam meningkatkan kualitas layanan dan infrastruktur perkotaan.