Wacana Fusi Gerindra dan NasDem Membuka Ketidakpastian Baru dalam Politik Nasional
JAKARTA – Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai bila wacana fusi atau penyatuan antara Partai Gerindra dan Partai NasDem akan mengubah konfigurasi kekuasaan nasional dan membuka ketidakpastian baru dalam politik nasional.
Dia mengungkapkan, penyatuan atau fusi dua partai besar hampir pasti akan melahirkan dinamika baru, termasuk potensi menguatnya faksi-faksi internal. Pengalaman historis menunjukkan bahwa figur-figur kunci seperti Prabowo Subianto dan Surya Paloh yang sama-sama berlatar belakang Partai Golkar, justru membangun kendaraan politik baru—Partai Gerindra dan Partai NasDem—sebagai respons atas kerasnya kompetisi dan tarik-menarik kepentingan antar faksi di internal Partai Beringin.
“Artinya, jika dua entitas yang lahir dari pengalaman fragmentasi tersebut kembali disatukan, potensi reproduksi konflik internal bukan tidak mungkin terjadi dalam bentuk baru,” ujar Arifki dalam keterangannya, Minggu, 19 April.
“Fusi bukan hanya menyatukan kekuatan, tetapi juga kepentingan. Di situlah faksi-faksi akan muncul, dan ini bisa memengaruhi arah keputusan strategis, termasuk dalam penentuan dukungan capres,” sambungnya.
Dia menjelaskan, NasDem pada Pemilu 2024 memiliki kecenderungan progresif dengan mengusung isu perubahan. Karakter tersebut berpotensi mengalami penyesuaian jika berada dalam satu blok kekuasaan yang lebih besar.
Dalam konteks itu, NasDem menghadapi dilema strategis, tetap mempertahankan peran sebagai pengusung alternatif, atau bertransformasi menjadi bagian dari arus utama kekuasaan.
Jika wacana merger terealisasi, peluang NasDem untuk memanfaatkan skenario ambang batas nol persen pada Pilpres 2029 juga berpotensi tertutup.
Arifki menegaskan, jika bertahan dalam blok kekuasaan, ruang untuk mengusung figur alternatif seperti Anies Baswedan menjadi terbatas.
Namun, jika memilih keluar, NasDem harus mampu membangun basis politik baru di luar kekuasaan sebagai bekal menuju 2029.
“Pada akhirnya, wacana fusi Gerindra dan NasDem tidak sekadar soal konsolidasi kekuatan, tetapi juga membuka ketidakpastian baru dalam peta politik nasional, termasuk masa depan Anies dalam kontestasi Pilpres 2029,” tukasnya.
Baca juga:
Wacana fusi Gerindra dan NasDem sendiri dibantah Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya.
Meski pada masa lalu memang pernah terjadi fusi kepartaian, yakni partai-partai Islam menjadi PPP, sedangkan partai-partai nasionalis menjadi PDIP, Ketua Umum Partai NasDem hanya mengajukan political block.
Dia mengungkapkan, political block ditawarkan Surya Paloh agar perjuangan-perjuangan kebijakan pemerintah menjadi suatu tarikan napas dan tidak transaksional, karena saat ini kerja sama politik antarpartai dianggap cenderung minimalis.