Bahlil Pastikan Minyak Mentah dari Rusia Dikirim Bulan Ini
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan jika minyak mentah atau crude oil dari Rusia mulai dikirimkan bulan ini.
Untuk informasi, impor crude dari Rusia ini merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Valdimir Putin belum lama ini.
"Kalau untuk crude mungkin bulan-bulan ini bisa (dikirim). InsyaAllah," ujar Bahlil kepada awak media, Jumat, 17 April.
Bahlil menambahkan, tak hanya minyak mentah, Indonesia juga membeli liquefied petroleum gas (LPG) dari Rusia. Kendati demikian pengiriman elpiji belum bisa dikirim bersamaan dengan minyak mentah, sebab masih dalam tahap finalisasi.
"Elpiji masih dalam finalisasi. (Pengirimannya) lebih cepat lebih baik," kata dia.
Saat ditanya terkait harga transaksi, Ketua Umum Partai Golkar ini menyebut nilai pembelian minyak dari Rusia bersifat dinamis dan mengacu pada pergerakan pasar internasional.
"Harga pasti akan terjadi dinamis. Harga itu akan menyesuaikan dengan harga pasar dan tergantung negosiasi kita," sambung Bahlil.
Sebelumnya diberitakan jika Bahlil bersama Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev pada hari Selasa 14 April melakukan tatap muka langsung. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin sehari sebelumnya.
“Alhamdulillah apa yang sudah menjadi kesepakatan itu, kita mendapatkan hasil yang cukup baik dimana kita bisa mendapatkan cadangan crude kita untuk kita nambah. Di samping itu juga kita akan bisa mendapatkan LPG,” kata Bahlil dalam keterangan kepada media, Selasa 14 April.
Baca juga:
Dalam forum tersebut, Rusia menyatakan kesiapan untuk mendukung ketahanan energi Indonesia salah satunya suplai minyak dan gas bumi dan penyimpanan (storage).
Pertemuan itu turut dihadiri perwakilan sejumlah perusahaan energi Rusia, antara lain Rosneft, Ruschem, Zahrubesneft, dan Lukoil.
Bahlil menegaskan bahwa kerja sama tersebut dijajaki melalui skema antarpemerintah atau Government to Government (G2G) maupun business-to-business (B2B), yang diharapkan dapat memberikan kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional, khususnya untuk minyak mentah dan elpiji di Indonesia.