Asrorun Ni’am: NU Harus Kembali ke Qanun Asasi demi Menjaga Persatuan

JAKARTA - Ketua Umum Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama harus senantiasa merawat persatuan dalam menghadapi berbagai dinamika organisasi maupun perbedaan pandangan.

Menurut Ni’am, komitmen terhadap persatuan merupakan salah satu nilai dasar yang menjadi pondasi tegaknya jam’iyyah NU, sebagaimana termuat dalam muqaddimah Qanun Asasi yang dirumuskan oleh KH Hasyim Asy’ari.

“Karenanya, kita perlu kembali kepada Qanun Asasi sebagai pijakan berorganisasi. Komitmen ke depan, harus membangun kesadaran kembali kepada prinsip dasar organisasi, kesatuan dan persatuan untuk mengoptimalkan perkhidmatan,” ujarnya di Jakarta, Antara, Senin, 13 April.

Pesan itu disampaikan dalam sambutannya pada acara Halalbihalal Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) yang digelar di Jakarta, Minggu malam, 12 April.

Ni’am menegaskan semangat kebersamaan di tubuh NU harus terus dijaga agar tidak mudah terpecah oleh perbedaan orientasi, baik dalam aspek keagamaan maupun politik.

Menurut dia, selama pengurus dan jamaah memahami Qanun Asasi secara utuh, tidak seharusnya muncul pertentangan yang berujung pada perpecahan berkepanjangan.

“Jika pengurus dan jamaah NU memahami utuh Qanun Asasi serta menjadikannya sebagai pijakan, maka pasti tak ada pertentangan yang menjurus pada perpecahan atau syiqaq berkepanjangan,” kata dia.

Ia juga mengingatkan bahwa ketika muncul perbedaan pandangan, pihak lain seharusnya hadir sebagai penengah dan juru damai, bukan justru memperkeruh suasana.

“Muktamar NU ke depan harus menjadi jalan menuju persatuan dan kebersamaan, dengan menempatkan norma yang ada dalam Muqaddimah Qanun Asasi sebagai pijakan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua MUI Bidang Fatwa tersebut menekankan pentingnya silaturahim sebagai perekat utama persaudaraan di tengah perbedaan.

Menurut dia, Halalbihalal bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi momentum untuk mempertautkan hati demi menjaga hubungan antarsesama.

Ni’am mengingatkan bahwa perbedaan pilihan, afiliasi, maupun pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan berorganisasi.

Namun, melalui pertemuan dan silaturahim, setidaknya dapat dibangun kesepahaman, meski belum tentu langsung menghasilkan kesepakatan.

“Perbedaan pilihan, afiliasi, maupun pandangan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun, dengan bertemu dan bersilaturahim, minimal kita bisa membangun kesepahaman,” ujarnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa seluruh elemen Nahdlatul Ulama harus tetap berpegang pada prinsip dasar warisan para pendiri, terutama komitmen pada persatuan dan persaudaraan.