Apa Itu Sleep Divorce? Tren Tidur Terpisah yang Justru Bisa Perkuat Hubungan
YOGYAKARTA - Pernah merasa sulit tidur karena pasangan sering mendengkur atau memiliki jadwal tidur yang berbeda? Situasi ini ternyata cukup umum dialami banyak pasangan, meski jarang dibicarakan secara terbuka. Dari sinilah muncul istilah yang cukup menarik perhatian yakni sleep divorce.
Sekilas, istilah ini mungkin terdengar negatif, seolah-olah menggambarkan hubungan yang sedang bermasalah. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Banyak pasangan memilih cara ini untuk menjaga kualitas tidur sekaligus mempertahankan keharmonisan hubungan mereka.
Tren sleep divorce semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, tidak sedikit selebritas yang secara terbuka mengakui bahwa mereka tidur terpisah demi kesehatan dan kenyamanan masing-masing. Lantas apa itu sleep divorce dan mengapa banyak pasangan mencobanya? Dilansir dari Sleep Foundation, berikut pembahasannya.
Apa Itu Sleep divorce?
Sleep divorce adalah kondisi ketika pasangan memilih tidur di kamar atau tempat tidur yang berbeda, meskipun tetap berada dalam hubungan yang harmonis. Tujuannya bukan untuk menjauh secara emosional, melainkan untuk mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.
Alasan di balik keputusan ini cukup beragam. Salah satu yang paling umum adalah gangguan tidur, seperti mendengkur, sering terbangun di malam hari, atau perbedaan ritme tidur antara pasangan. Hal-hal kecil seperti ini, jika terjadi terus-menerus, bisa berdampak besar pada kualitas istirahat seseorang.
Selain itu, kondisi tertentu seperti alergi musiman atau kebiasaan tidur yang berbeda juga bisa memicu keputusan untuk tidur terpisah. Bahkan, beberapa orang merasa lebih nyaman dan bebas ketika memiliki ruang tidur sendiri.
Menariknya, sebuah survei di Amerika Serikat menemukan bahwa lebih dari sepertiga orang pernah atau rutin tidur terpisah dari pasangannya. Artinya, fenomena ini bukan lagi hal yang tabu, tetapi semakin diterima sebagai bagian dari gaya hidup modern. Apalagi di tengah kesadaran yang meningkat tentang pentingnya kualitas tidur.
Baca juga:
Bagi sebagian pasangan, keputusan ini justru membawa dampak positif. Dengan tidur yang lebih nyenyak, mereka bangun dengan suasana hati yang lebih baik. Hal ini selanjutnya akan berpengaruh pada cara mereka berinteraksi satu sama lain sepanjang hari.
Manfaat dan Efek Negatif Sleep divorce yang Perlu Dipertimbangkan
Banyak pasangan yang menerapkan sleep divorce mengaku mendapatkan banyak manfaat, berikut di antaranya:
- Berkurangnya Gangguan Tidur
Salah satu manfaat utama sleep divorce adalah berkurangnya gangguan saat tidur. Tidak ada lagi suara dengkuran, gerakan tiba-tiba, atau perbedaan jadwal yang mengganggu. Hasilnya, banyak orang melaporkan tidur mereka menjadi lebih berkualitas.
- Kualitas Tidur Meningkat
Survei yang dilakukan Sleep Foundation menemukan 53 persen orang yang telah mencoba sleep divorce mengaku kualitas tidur mereka meningkat setelah tidur sendirian. Ketika seseorang cukup tidur, emosi menjadi lebih stabil dan risiko konflik berkurang.
- Durasi Tidur Meningkat
Sleep divorce jua meningkatkan durasi tidur. Mereka mengaku tidur rata-rata 37 menit lebih lama setiap malam saat tidur terpisah. Ini tentu berdampak besar pada kesehatan, mengingat kurang tidur dapat memicu berbagai masalah seperti kelelahan, stres, hingga gangguan metabolisme.
- Kualitas Hubungan Membaik
Jika tidur terpisah meningkatkan kualitas tidur pasangan, hal itu juga dapat meningkatkan hubungan mereka. Ketika seseorang cukup tidur, emosi menjadi lebih stabil dan risiko konflik berkurang, dan sebaliknya.
Namun meskipun banyak pasangan mengaku mendapatkan banyak manfaat, ada beberapa efek negatif dari sleep divorce yang perlu dipertimbangkan. Survei mencatat lebih dari seperempat pasangan yang mencoba sleep divorce akhirnya kembali tidur bersama lagi. Bagi pasangan yang terbiasa tidur berdekatan, perubahan ini bisa terasa asing dan bahkan menimbulkan rasa kesepian.
Efek negatif lainnya yakni kualitas tidur bisa memburuk. Tidak semua orang merasakan peningkatan kualitas tidur setelah mencoba sleep divorce. Bagi sebagian orang, sleep divorce justru bisa menurunkan kualitas tidur. Tercatat 40 persen dari pasangan yang kembali tidur bersama mengatakan kualitas tidur mereka meningkat setelah mengakhiri sleep divorce.
Karena itu, penting untuk mempertimbangkan kondisi masing-masing sebelum memutuskan. Jika gangguan tidur mulai berdampak pada kesehatan dan hubungan, maka sleep divorce bisa menjadi solusi yang layak dicoba.
Jika Anda dan pasangan sering mengalami gangguan tidur, tidak ada salahnya mendiskusikan opsi ini dengan jujur dan terbuka kepada pasangan Anda. Siapa tahu, tidur terpisah justru membawa perubahan besar dalam kualitas hidup dan hubungan Anda.
Selain pembahasan soal sleep divorce, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!