JAKARTA - Sleep training atau metode melatih anak tidur mandiri kini semakin populer di kalangan orang tua. Namun, praktik ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena setiap anak memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda, sehingga pendekatannya harus disesuaikan dengan usia serta kesiapan anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak mengikuti tren sleep training tanpa memahami prinsip dasarnya. Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, menekankan pentingnya pendekatan yang bijak dan tidak sekadar ikut-ikutan.
"Hal pertama yang harus dipahami adalah jangan FOMO. Tidak ada cara tidur yang berlaku seragam untuk semua anak, masing-masing berbeda," ujar Piprim.
Ia menanggapi adanya kasus bayi berusia empat bulan yang meninggal dunia setelah menangis dalam waktu lama saat menjalani sleep training. Menurutnya, metode ini tidak boleh diterapkan secara kaku, terutama pada anak usia di bawah tiga tahun.
Piprim menegaskan bahwa orang tua harus memastikan kondisi anak dalam keadaan sehat sebelum menerapkan sleep training, serta memperhatikan apakah metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan anak.
"Ini sebetulnya untuk periode transisi melatih pola tidur anak secara mandiri, tidak mesti digendong. Tapi perlu dilihat anak sedang dalam kondisi sehat atau tidak," jelasnya.
BACA JUGA:
Jika anak menangis terlalu lama atau menunjukkan tanda stres, orang tua disarankan segera menghentikan metode tersebut dan mengevaluasi pendekatan yang digunakan.
Selain itu, pengawasan tetap menjadi hal yang sangat penting. Piprim menyarankan penggunaan kamera pengawas untuk memastikan kondisi anak tetap terpantau saat berada di ruangan terpisah.
"Jadi jangan ibunya asyik bermain ponsel, media sosial dan anak tidak terpantau sama sekali," tegasnya.
Pendapat serupa disampaikan oleh Dr. Tuti Rahayu dari IDAI Cabang DKI Jakarta. Ia menekankan bahwa tangisan anak tidak boleh diabaikan, karena merupakan bentuk komunikasi atas kebutuhan yang dirasakan.
"Kalau anak sudah menangis, itu pasti ada sesuatu. Entah dia pipis, buang air besar, kepanasan atau tidak nyaman," kata Tuti.
Ia juga mengingatkan bahwa membiarkan anak menangis terlalu lama dapat membuatnya kelelahan dan berpotensi berdampak pada kondisi kesehatan.
Selain faktor metode, orang tua juga perlu memperhatikan kesiapan fisik anak serta lingkungan tidur yang aman. Pada bayi usia empat bulan, kemampuan fisik masih terbatas, sehingga membutuhkan perhatian ekstra.
Lingkungan tidur seperti kasur yang terlalu empuk, bantal yang berisiko menutup saluran napas, hingga banyaknya boneka di tempat tidur dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada bayi.
Kasus yang sempat viral di media sosial mengenai bayi yang meninggal setelah ditinggal sendirian saat sleep training menjadi pengingat penting bahwa metode ini harus dilakukan dengan pengawasan dan pemahaman yang tepat.
Pada akhirnya, sleep training bukan sekadar melatih anak tidur sendiri, tetapi juga memastikan keamanan, kenyamanan, serta kesiapan anak dalam setiap prosesnya.