Operasi Narasi Setajam Timah Panas

JAKARTA – Medan pertempuran modern bagi Israel tidak terbatas pada batas-batas fisiknya; medan pertempuran tersebut meluas ke layar dan media sosial audiens global. Strategi hubungan masyarakat yang canggih, didanai dengan baik, tidak konvensional atau yang dikenal sebagai Hasbara alias diplomasi publik, digencarkan secara khusus untuk membentuk narasi internasional seputar operasi militer negara tersebut.

Strategi propaganda Israel yang dikenal dengan Hasbara dipopulerkan oleh aktivis dan jurnalis Zionis Polandia bernama Nahum Sokolow sejak awal abad ke-20. Hasbara bertujuan agar publik membenarkan tindakan dan kebijakan yang kontroversial Israel atas penduduk Palestina melalui serangkaian distorsi informasi dan rekayasa media.

Melalui tulisan berjudul “Propaganda and War” yang termuat dalam Media Monitors Network, Edward Said, seorang profesor pendiri bidang studi pascakolonial, mengungkap berbagai upaya Israel dalam melakukan misinformasi. Melalui proyek Hasbara, Israel membuat pemalsuan sejarah besar-besaran, sehingga publik merasa tindakan yang dilakukan Israel adalah benar karena mereka hanyalah korban dari aksi terorisme penduduk Palestina.

“Opini ini mengarah pada pernyataan bahwa alasan orang-orang Arab dan Muslim, atau bahkan masyarakat di seluruh dunia yang membenci Israel adalah karena kebencian terhadap orang Yahudi atau yang mereka sebut dengan antisemitisme,” ungkapnya.

Diskursus Hasbara, sebagaimana dibentuk sejak awal abad ke-20, bukan fenomena yang baru-baru ini muncul. Penyebaran informasi bohong dan rekayasa media ini semakin melejit bersamaan dengan meningkatnya penggunaan media sosial di seluruh dunia. Tak main-main, Israel telah mengucurkan dana ratusan juta dolar demi kesuksesan proyek ini. Artinya, propaganda Israel akan lebih mudah menjangkau siapapun pemilik media sosial, tanpa memandang usia.

“Alhasil, terjadilah kebingungan di tengah-tengah masyarakat dunia. Kepada Israel atau Palestina mereka harus berpihak? Ataukah bersikap netral lebih baik? Dengan demikian, ketidakpahaman akan sejarah akan membuat kita terperangkap pada jebakan Hasbara ini,” lanjut Edward.

Ilustrasi Hasbara (Ist)

Investigasi yang dilakukan Eurovision News Spotlight, mengungkapkan bahwa anggaran yang digelontorkan untuk Hasbara pada tahun 2025 meningkat 20 kali lipat, yakni sebesar 150 juta dolar atau sekitar Rp2,4 triliun. Hal ini sebagai bagian dari diplomasi publik dan pemulihan citra Israel setelah aksi-aksi genosida yang dilakukan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bila alokasi dana itu akan digunakan untuk mempengaruhi sentimen di pers asing dan di media sosial.

Pemerintah Israel memahami situasi dunia saat ini, terutama di kampus-kampus dan jalanan Amerika yang beberapa tahun terakhir banyak terjadi aksi demonstrasi mengutuk aksi genosida Israel terhadap Palestina. Aksi pro-Palestina juga digaungkan oleh banyak penduduk di berbagai negara di dunia. Oleh karena itu, pemerintah Israel mengadakan sesi diskusi dengan berbagai individu dan kelompok demi menyukseskan advokasi pro-Israel di seluruh dunia. Pesertanya bukan hanya dari kalangan para pejabat kenegaraan, melainkan juga influencer media, pendukung Hasbara profesional, tokoh budaya, dan perwakilan kelompok-kelompok Yahudi.

Hasbara dan Penggiringan Opini di Indonesia

Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi pernah menegaskan bahwa Indonesia tidak akan memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, Israel tidak akan berhenti menarik simpati masyarakat Indonesia. Melalui Hasbara, ajakan memahami Israel melalui sudut pandang mereka akan terbuka. Contohnya adalah sebuah program yang diinisiasi oleh Israel-Asia Center telah membuat program berjudul Israel-Indonesia Futures.

Program tersebut dilaksanakan secara daring 5 Januari-4 Mei 2025 dalam rangka membawa peserta pada perjalanan untuk menemukan potensi yang belum dimanfaatkan antara Israel (Negara Start-Up dan satu-satunya negara Yahudi di dunia) dan Indonesia (yang diharapkan menjadi ekonomi terbesar ke-5 di dunia pada tahun 2030 dan negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia). Peserta Indonesia yang mendaftar akan diajak untuk menelusuri sejarah, politik, ekonomi, budaya, bahasa, “konflik”, dan kemunculan Israel sebagai pusat teknologi dan inovasi global.

Ternyata, program ini pernah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada laman tersebut juga tercantum testimoni dari orang-orang Indonesia yang pernah mengikuti program tersebut. Program Israel-Indonesia Futures digadang-gadang dalam rangka membuka normalisasi hubungan antara Israel dengan Indonesia secara bertahap seperti yang telah dilakukan oleh Arab Saudi. Dalam website pendaftaran tersebut juga tercantum catatan penting kerahasiaan yang dijamin oleh institusi. “Kami memahami sensitivitas hubungan antara Israel dan Indonesia. Oleh karena itu, tidak ada nama peserta program, pembicara, mitra, atau pendukung yang dipublikasikan tanpa izin tertulis dari mereka,” demikian keterangan yang tertulis dalam laman Israel-Asia Center.

Ilustrasi Hasbara (Harez

Ketua Peduli Transformasi Nasional (Petranas) Yogyakarta, Guntur Surya Alam, mengungkap bahwa Hasbara bukan hanya tentang bagaimana Israel membangun citra positif di mata dunia, tetapi juga bagaimana mereka mencoba merangkul negara-negara yang selama ini menolak keberadaannya. Dengan strategi yang lebih halus dan terstruktur, propaganda ini terus bekerja, bahkan tanpa disadari.

Dia menjelaskan, dalam konteks politik dan strategi, Hasbara digunakan sebagai alat penting oleh Israel untuk membentuk narasi global yang mendukung tindakannya, khususnya dalam konflik dengan Palestina. Indonesia, yang memiliki sejarah panjang dalam mendukung kemerdekaan Palestina, perlu waspada terhadap pengaruh hasbara yang mencoba mengalihkan perhatian dari isu-isu fundamental ini.

“Kesadaran kritis, pendidikan, akses terhadap informasi yang obyektif dan berimbang berperan penting sebagai benteng untuk menjaga masyarakat dari pengaruh negatif Hasbara, sekaligus lebih mampu memahami situasi sebenarnya di Palestina dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda,” tuturnya.

Guntur juga menegaskan, peran media lokal dan organisasi masyarakat sipil sangat penting dalam menyampaikan narasi yang benar dan seimbang. Media harus berkomitmen untuk menyajikan laporan yang obyektif dan mendalam mengenai konflik Palestina-Israel, sementara organisasi masyarakat sipil dapat mengedukasi publik tentang hak asasi manusia dan keadilan global.

“Indonesia harus memperkuat jaringan internasional sehingga dapat memperkuat posisinya dalam mendukung Palestina dan melawan narasi Hasbara yang menyesatkan. Selain itu, menjaga integritas dan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap isu-isu internasional adalah langkah strategis untuk melawan pengaruh negatif Hasbara,” tukasnya.

Terlepas dari berbagai kontroversi di balik Hasbara, tidak berlebihan bila menyebut bahwa Israel telah sangat memahami pentingnya perang informasi dan mengembangkan konsep-konsep baru bagaimana caranya membuat para sekutunya untuk tetap mendukung kebrutalan mereka.

Dramawan Yunani Kuno, Aeschylus, pernah mengatakan bahwa “dalam perang, kebenaran adalah korban pertama.” Tapi, bagaimana bila kebenaran dapat dibentuk, dipahat ulang dan didigitalkan menjadi peserta penuh dalam perang? Sebab, dalam peperangan modern, penguasaan informasi bisa sama pentingnya dengan penguasaan medan perang, dan itulah yang dilakukan oleh Israel dengan Hasbara.