Depan Presiden, Menko Airlangga Lapor: Konsumsi Domestik 54 Persen, Cadangan Devisa Tembus US$151,9 Miliar

JAKARTA - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan di depan Presiden Prabowo Subianto konsumsi domestik masih menopang 54 persen produk domestik bruto, utang luar negeri berada di level 29,9 persen dari PDB, dan cadangan devisa mencapai 151,9 miliar dolar AS.

Laporan itu disampaikan Airlangga dalam rapat kabinet di Istana Negara, Jumat, 13 Maret, saat pemerintah menghadapi tekanan perang dan gejolak harga minyak dunia.

Airlangga mengatakan Mandiri Spending Index berada di angka 360,7. Saat Presiden menanyakan angka utang luar negeri, Airlangga menegaskan posisinya masih di bawah 30 persen dari PDB.

“29,9 persen. Di bawah 30 persen, Pak. Kondisi per hari ini,” kata Airlangga.

Ketika Presiden Prabowo menanyakan total utang jika digabung dengan pinjaman dalam negeri, Airlangga menyebut angkanya sekitar 40 persen. Menurut Menko Airlangga, posisi itu masih tergolong rendah.

Airlangga juga melaporkan cadangan devisa kini setara enam bulan impor. Angka itu, lebih tinggi dibanding tahun lalu yang masih di kisaran 140 miliar dolar AS.

Dari sisi perdagangan, rasio perdagangan luar negeri Indonesia mencapai 42 persen terhadap PDB. Menurut Airlangga, ekspor komoditas seperti batu bara, karet, nikel, dan tembaga memberi kompensasi alami terhadap defisit migas. Nilai ekspor komoditas itu disebut mencapai 47 miliar dolar AS, sementara defisit migas berada di angka 19,5 miliar dolar AS.

Ia juga menyebut local currency settlement dengan Malaysia, Thailand, Jepang, dan China meningkat menjadi 25,56 miliar dolar AS, dari 12,9 miliar dolar AS tahun lalu. Menurut dia, jika tren ini terus didorong, tekanan terhadap dolar bisa menurun.

Di sisi fiskal, Airlangga melaporkan APBN masih berfungsi sebagai penahan guncangan. Bantuan pangan tahun ini mencapai Rp11,92 triliun, sedangkan THR pemerintah sekitar Rp40 triliun. Pendapatan pajak hingga Februari 2026, kata dia, tumbuh 30,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.