Survei: Gen Z Masih Pakai TikTok, Tapi Kepercayaan Mulai Menurun
JAKARTA – Platform video pendek TikTok masih menjadi aplikasi favorit generasi muda, namun tingkat kepercayaan pengguna dari kalangan Gen Z terhadap platform tersebut mulai menurun secara signifikan. Temuan ini terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Harris Poll.
Hasil survei menunjukkan sekitar 60 persen pengguna Gen Z kini mempercayai TikTok lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Selain itu, 74 persen responden mengatakan mereka menjadi lebih berhati-hati terhadap konten yang mereka lihat atau interaksikan di platform tersebut.
Perubahan sikap ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai disinformasi, keamanan data pribadi, serta perubahan struktur kepemilikan platform yang membuat pengguna semakin sadar terhadap bagaimana data mereka digunakan.
Sekitar 64 persen responden menyatakan bahwa perubahan kepemilikan TikTok membuat mereka lebih memperhatikan isu privasi dan perlindungan data pribadi. Alih-alih menenangkan kekhawatiran pengguna, proses perubahan tersebut justru membuat sebagian pengguna merasa lebih waspada.
Baca juga:
- Pendapatan Iklan YouTube Lampaui Disney, NBC, Paramount, dan Warner Bros di 2025
- Mendagri Siapkan Insentif bagi Daerah yang Aktif Lindungi Anak di Ruang Digital
- BRIN Ungkap Dampak Konstelasi Satelit Terhadap Pengamatan Astronomi di Indonesia
- Adobe Luncurkan Asisten AI ke Photoshop di Web dan Seluler dalam Versi Beta
Fenomena nostalgia juga muncul dalam survei tersebut. Sekitar 79 persen pengguna Gen Z mengatakan mereka merindukan versi awal TikTok ketika platform itu belum terlalu dipenuhi iklan dan promosi merek. Pada masa awal popularitasnya sekitar 2020, TikTok dikenal dengan konten yang lebih spontan dan tidak terlalu dikomersialkan.
Menurut laporan survei, banyak pengguna merasa feed TikTok kini lebih mirip saluran belanja dibandingkan ruang kreatif. Konten yang lebih “mentah” dan tidak terlalu disusun rapi menjadi sesuatu yang dirindukan pengguna.
Sekitar 43 persen responden juga mengatakan pengalaman menggunakan TikTok kini terasa lebih melelahkan secara mental dibandingkan satu tahun lalu. Sementara itu, 72 persen pengguna menilai banyak konten di platform tersebut terasa terlalu dibuat-buat atau performatif.
Tren penurunan kepercayaan ini tidak hanya terjadi pada TikTok. Survei juga menunjukkan menurunnya keterlibatan Gen Z di berbagai platform media sosial lain. Sekitar 34 persen responden mengaku kini lebih sering hanya menjadi pengamat pasif atau “lurker”, jarang memposting atau berinteraksi.
Hampir sepertiga pengguna bahkan mengatakan mereka membuka media sosial hanya karena kebiasaan, bukan karena benar-benar ingin menggunakannya. Selain itu, 39 persen responden menilai feed mereka kini dipenuhi konten berkualitas rendah yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.
Di tengah tren tersebut, satu platform justru mencatat persepsi positif dari Gen Z, yakni YouTube milik Google. Survei menunjukkan platform video tersebut memiliki tingkat penilaian positif sebesar 78 persen di kalangan Gen Z, dengan 38 persen responden mengatakan mereka berencana menggunakannya lebih sering dalam setahun ke depan.
Sebaliknya, platform X mencatat kinerja terburuk dalam survei tersebut. Hanya sekitar 15 persen responden yang mengatakan mereka berencana meningkatkan penggunaan aplikasi tersebut.
Chief Strategy Officer Harris Poll, Libby Rodney, mengatakan kehadiran Gen Z di TikTok setiap hari tidak selalu berarti loyalitas terhadap platform itu.
Menurutnya, banyak pengguna sebenarnya hanya mengikuti kebiasaan digital yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Namun kebiasaan tersebut bisa berubah sewaktu-waktu, terutama jika pengguna mulai merasa pengalaman mereka di media sosial tidak lagi menyenangkan atau autentik.