Macron Anggap Strategi Mengalah dari AS Rugikan Eropa

JAKARTA - Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan strategi Uni Eropa yang memilih mengalah kepada Amerika Serikat saat menghadapi tindakan agresif justru tidak memberikan hasil dan berisiko melemahkan posisi Eropa di panggung global.

Dalam wawancara dengan sejumlah media Eropa yang dipublikasikan Selasa, 10 Februari, Macron menegaskan dirinya tidak pernah merendahkan AS, namun menilai pendekatan kompromi berlebihan terhadap tekanan Washington bukanlah langkah yang efektif.

"Saya tidak pernah menghina AS, rakyatnya, atau kepemimpinannya, tidak pernah. Saya juga tidak mengejeknya, karena saya percaya AS adalah demokrasi yang sangat besar. Ini bukan strategi," ujarnya dilansir ANTARA dari Sputnik.

Menurut Macron, Eropa dapat “tersingkir” dalam lima tahun ke depan jika tidak segera mengambil tindakan tegas untuk melindungi kepentingan strategisnya. Ia menyoroti kemunduran di sejumlah sektor penting seperti industri kimia, permesinan, dan otomotif.

Macron menggambarkan situasi saat ini sebagai krisis ganda, yakni tekanan perdagangan besar dari China serta ketidakstabilan kebijakan dari pihak Amerika Serikat, yang menurutnya menempatkan Eropa dalam posisi sulit.

"Dalam kenyataannya, kita menghadapi krisis ganda: tsunami perdagangan dari China dan ketidakstabilan seketika dari pihak Amerika ... Kita harus bertanya pada diri sendiri apakah kita ingin menjadi penonton atau pelaku," ujar Macron.

Ia menekankan Eropa harus memilih menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton dalam dinamika global. Sikap pasif, kata dia, sama saja dengan “menyerah secara sukarela” terhadap tekanan kekuatan besar dunia.

Macron juga menyebut isu Greenland sebagai titik balik geopolitik yang menyadarkan negara-negara Eropa akan adanya ancaman nyata terhadap stabilitas kawasan dan kepentingan strategis mereka.

"Saya pikir kita sekarang berada pada titik yang saya sebut sebagai 'momen Greenland.' Itu tentu membuat jelas bagi orang Eropa ancaman itu ada," katanya.

Terkait konflik Ukraina, Macron menegaskan Eropa harus dilibatkan langsung dalam setiap perundingan penyelesaian, agar dapat menjaga kepentingannya sendiri. Ia menambahkan tanggung jawab tersebut tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pihak lain, termasuk Amerika Serikat.

Pada Januari lalu, media melaporkan Macron menolak bergabung dalam inisiatif Dewan Perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Trump kemudian mengancam akan mengenakan tarif tinggi terhadap produk anggur dan sampanye Prancis, ancaman yang oleh pihak Istana Elysee disebut tidak dapat diterima.