Dua Gejala Silent Heart Attack yang Sering Diabaikan

JAKARTA - Terjadinya serangan jantung tidak selalu disertai dengan rasa sakit hingga pingsan. Terdapat silent heart attack atau serangan jantung sunyi yang sangat berbahaya, karena sering kali tidak disadari.

Ahli jantung Profesor Tim Choco mengatakan dalam jurnal yang dipublikasikan di British Heart Foundation (BHF) bahwa silent heart attack adalah kondisi yang umum terjadi.

Serangan jantung tersebut bahkan mencakup sekitar sepertiga dari seluruh kasus serangan jantung yang ada. Menurut Prof Chico terdapat dua gejala berkelanjutan yang patut diwaspadai sebagai sinyal serangan jantung sunyi.

Adapun kedua gejala tersebut adalah nyeri dada dan sesak napas. Banyak orang yang tidak merasakan gejala spesifik tersebut, dan cenderung mengabaikannya.

“Sering kali serangan jantung baru didiagnosis beberapa minggu, bulan, atau tahun kemudian, selama pemeriksaan rutin atau karena gejala yang berkelanjutan. Seperti nyeri dada (angina) atau sesak napas,” kata Prof Chico, dikutip dari Mirror UK, pada Senin, 9 Februari 2026.

Prof Chico menyampaikan bahaya utama dari serangan jantung sunyi adalah tertundanya pengobatan. Ini berarti pasien sudah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan perawatan yang mengurangi kerusakan jantung, dan adanya risiko mengalami serangan jantung lagi.

“Semakin cepat memulai perawatan ini, semakin efektif hasilnya. Beberapa orang baru mengetahui mereka mengalami serangan jantung sunyi setelah mengalami serangan jantung lain, yang mungkin tidak akan terjadi jika mereka mendapatkan perawatan lebih awal,” jelasnya.

Terdapat beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung sunyi. Mulai dari lansia, pengidap diabetes, kolesterol tinggi, hingga hipertensi.

“Jika Anda berisiko untuk lebih tinggi karena kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, atau diabetes, bicarakan dengan dokter terkait pengobatannya,” pungkas Prof Chico.