Banjir Tak Kunjung Surut, Warga Pantura Subang Terpaksa Mengungsi di Kolong Jembatan
Subang— Ratusan warga terdampak banjir di kawasan Pantura Kabupaten Subang terpaksa mengungsi di kolong jembatan layang Pamanukan setelah genangan air belum juga surut hingga sepekan terakhir. Banjir yang melumpuhkan aktivitas warga itu memaksa sebagian keluarga bertahan di lokasi darurat yang minim fasilitas, namun dianggap paling realistis di tengah keterbatasan.
Sejumlah warga memilih kolong jembatan karena lokasinya berdekatan dengan rumah mereka yang terendam. Kondisi tersebut memudahkan proses penyelamatan barang-barang yang masih bisa dievakuasi. Didi, warga Pamanukan, mengatakan keputusan mengungsi di kolong jembatan bukan tanpa alasan. Selain sudah menjadi titik pengungsian setiap kali banjir datang, jaraknya yang dekat dinilai lebih aman secara sosial dan logistik.
Ia mengakui pemerintah daerah telah menyediakan lokasi pengungsian resmi. Namun, jarak yang relatif jauh membuat warga kesulitan membawa kebutuhan pokok dan harta benda yang tersisa. Dalam situasi darurat, pilihan rasional warga bukan soal kenyamanan, melainkan akses dan kendali atas aset mereka sendiri. Di lapangan, pragmatisme mengalahkan protokol.
Baca juga:
- Kekayaan Iman Rachman, Dirut BEI yang Pilih Mundur karena IHSG Terjun
- 81,2 Persen Publik Tolak, Khawatir Polri Dipolitisasi Jika Masuk Kementerian
- Konflik Lahan di Konawe Selatan: Rumah Petani Dibakar, PT Marketindo Selaras Diduga Tak Kantongi HGU
- Puslabfor Pastikan Bercak Merah Pada Kain Lula Lahfa Adalah Darah Menstruasi
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Subang menunjukkan dampak banjir kali ini tergolong luas. Hingga Sabtu pagi, 31 Januari, banjir di Kecamatan Pamanukan merendam 5.679 rumah di delapan desa. Secara keseluruhan di wilayah Subang, genangan air tercatat melanda 7.536 rumah yang tersebar di 51 desa pada tujuh kecamatan.
Sebanyak 13.541 kepala keluarga atau sekitar 36.060 jiwa terdampak langsung oleh banjir tersebut. Selain permukiman, banjir juga merendam 27 sarana ibadah, 20 sekolah, serta 2.884 hektare lahan persawahan. Dampak lanjutan terhadap sektor pendidikan dan ketahanan pangan mulai menjadi perhatian, terutama jika banjir berlangsung lebih lama.
BPBD Subang mencatat sebanyak 276 kepala keluarga atau 645 jiwa saat ini berada di lokasi pengungsian. Namun angka itu diperkirakan masih dinamis, mengingat sebagian warga memilih mengungsi secara mandiri di titik-titik informal seperti kolong jembatan.
Banjir Pantura Subang kembali menegaskan pola masalah klasik wilayah pesisir utara Jawa: kombinasi curah hujan tinggi, buruknya sistem drainase, serta minimnya ruang resapan air. Selama faktor struktural ini belum ditangani serius, kolong jembatan tampaknya akan terus menjadi “alamat darurat” yang berulang setiap musim hujan.