Mengetahui Jenis Barongsai Imlek yang Sering Tampil Saat Tahun Baru China
YOGYAKARTA - Jenis barongsai imlek kerap menjadi daya tarik utama saat perayaan Tahun Baru China, namun masih banyak orang belum memahami perbedaan dan makna di balik setiap jenisnya.
Tidak banyak orang tahu, setiap barongsai memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari bentuk kepala, warna, hingga gaya gerakan yang mencerminkan tradisi dan nilai budaya Tionghoa.
Sejarah Barongsai
Dilansir VOI dari laman Wikipedia, popularitas barongsai mulai menguat pada masa Dinasti Selatan–Utara (420–589 M).
Kala itu, pasukan Raja Song Wen Di menghadapi serangan pasukan gajah dari negeri Lin Yi. Seorang panglima bernama Zhong Que menciptakan boneka singa untuk menakuti gajah-gajah tersebut. Strategi sederhana itu berhasil, dan sejak saat itu tarian barongsai melegenda.
Seiring waktu, barongsai berkembang dari alat perang simbolik menjadi seni pertunjukan yang tak terpisahkan dari perayaan Imlek, upacara kelenteng, hingga acara peresmian dan festival budaya.
Mengenal Dua Jenis Barongsai Imlek Utama
Secara umum, tarian singa terbagi menjadi dua jenis utama yaitu Singa Utara dan Singa Selatan, berikut penjelasannya:
Singa Utara (Bei Shi)
Jenis ini di Indonesia sering disebut Pekingsai, memiliki bulu tebal dan panjang dengan warna mencolok seperti kuning dan merah.
Gerakan singa utara cenderung akrobatik dan atraktif, menampilkan aksi berjalan di atas bola, tali, hingga lompatan-lompatan yang menantang keseimbangan.
Konon, Pekingsai dahulu dipentaskan khusus untuk menghibur keluarga kerajaan di istana Tiongkok.
Singa Selatan
Sementara itu, Singa Selatan adalah jenis barongsai yang paling sering dijumpai di Indonesia. Bentuknya lebih ekspresif, dengan kepala besar yang dibuat dari bambu, kertas, dan dihias bulu.
Singa Selatan dikenal kaya akan mimik dan ekspresi, seolah hidup dan memiliki emosi. Singa Selatan terbagi lagi menjadi dua gaya utama, yakni Fut San dan Hok San.
Fut San
Fut San memiliki tanduk lancip, dahi tinggi, dan gerakan yang kuat serta bertumpu pada kuda-kuda kokoh. Gaya ini banyak digunakan dalam barongsai tradisional dan umumnya dimainkan oleh praktisi kungfu berpengalaman.
Hok San
Sebaliknya, Hok San dikenal lebih ekspresif dan dinamis. Gaya ini berkembang pada abad ke-20 berkat Feng Gengzhang, yang terinspirasi dari gerak-gerik kucing.
Baca juga artikel yang membahas Memahami Siapa yang Berhak Menerima Angpao Imlek Menurut Tradisi Tionghoa
Hok San menghadirkan langkah kaki unik, mimik lucu, serta iringan musik khas seperti Seven Star Drum. Di Singapura, Hok San bahkan dijuluki “Raja dari Raja Barongsai”.
Baca juga:
Warna, Arena, dan Teknik Permainan dalam Barongsai
Warna bulu barongsai bukan sekadar estetika. Putih melambangkan usia tertua dan kesucian, kuning melambangkan keberuntungan, hitam melambangkan singa muda yang lincah, merah simbol keberanian, hijau pertemanan, dan emas kegembiraan.
Dalam perkembangannya, barongsai modern kini hadir dengan warna-warna baru seperti ungu dan pink.
Barongsai juga dimainkan di berbagai arena, mulai dari lantai hingga tonggak setinggi dua meter. Kerja sama penari dan pemusik menjadi kunci utama agar barongsai tampak hidup, dengan ekspresi terkejut, ragu, hingga penuh semangat.
Sejarah Barongsai di Indonesia
Barongsai diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-17 seiring migrasi masyarakat Tiongkok Selatan. Sempat dilarang pada masa Orde Baru, barongsai kembali bangkit pasca-1998.
Kini, barongsai tak hanya menjadi seni budaya, tetapi juga cabang olahraga resmi di bawah naungan KONI.
Prestasi barongsai Indonesia pun diakui dunia. Tim-tim seperti Kong Ha Hong Jakarta, HBT Padang, dan PSMTI Tarakan berhasil menorehkan gelar juara internasional, membuktikan bahwa barongsai di Nusantara terus hidup dan berkembang lintas budaya.
Dengan memahami jenis barongsai imlek, masyarakat tak hanya menikmati pertunjukannya, tetapi juga menghargai nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang terus hidup lintas generasi.