Analisis Tren Ritel 2025: Kebutuhan Rumah Tangga di Wilayah Non-Jawa Alami Pertumbuhan Signifikan

JAKARTA Lanskap ritel nasional di sepanjang tahun 2025 menunjukkan perubahan menarik dengan semakin meratanya daya beli masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Tidak lagi hanya berpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa, aktivitas belanja kebutuhan rumah tangga kini tumbuh signifikan di wilayah tier 2 dan tier 3, mencerminkan standarisasi kebutuhan konsumen di berbagai daerah.

Data internal dari MR.D.I.Y. Indonesia menunjukkan bahwa ekspansi ke wilayah pelosok, termasuk pembukaan toko ke-1.200 di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sejalan dengan meningkatnya ekspektasi masyarakat akan akses ritel modern yang terjangkau.

Pergeseran Perilaku Belanja: Lebih Terencana dan Fungsional

Selain faktor geografis, terjadi pergeseran perilaku belanja di mana konsumen Indonesia kini cenderung lebih selektif. Faktor fungsionalitas, durabilitas, dan efisiensi harga menjadi pertimbangan utama sebelum melakukan transaksi.

Presiden Direktur MR.D.I.Y. Indonesia, Edwin Cheah, mencermati bahwa konsumen lintas daerah kini memiliki profil kebutuhan yang semakin serupa.

“Permintaan yang merata di berbagai wilayah menunjukkan bahwa konsumen Indonesia kini memiliki ekspektasi yang sama terhadap produk rumah tangga yang fungsional dan bernilai guna tinggi. Perluasan jaringan ritel memastikan setiap keluarga memiliki akses yang setara terhadap solusi kebutuhan harian mereka,” ujar Edwin.

Sepanjang 2025, tren "belanja cerdas" ini terlihat dari kategori produk yang paling banyak dicari. Produk praktis seperti dispenser sabun dan meja lipat multifungsi menjadi favorit karena relevan dengan gaya hidup hunian modern yang mengutamakan penghematan ruang. Di sisi lain, kategori aksesori dan produk pelengkap hobi tetap stabil sebagai pendamping kebutuhan utama.

Proyeksi Ramadan 2026: Belanja Lebih Awal dan Terukur

Menjelang momentum Ramadan, pasar ritel diprediksi akan mengalami lonjakan aktivitas lebih awal dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, berbeda dengan tren impulsif masa lalu, konsumen tahun ini diproyeksikan akan berbelanja dengan cara yang lebih terukur.

Fokus utama belanja diperkirakan akan tertuju pada perlengkapan dapur dan penunjang kebersamaan keluarga di rumah. Masyarakat cenderung memanfaatkan program penawaran nilai untuk menjaga daya beli di tengah dinamika ekonomi saat ini.

“Kami melihat konsumen semakin bijak. Prioritas pemenuhan kebutuhan rumah tangga kini dibarengi dengan pertimbangan fleksibilitas produk dan efisiensi anggaran. Dengan harga yang tetap kompetitif, konsumen dapat mengalokasikan dana mereka untuk kebutuhan primer lainnya,” tutup Edwin.