Gigi yang Tidak Bisa Dibehel, Bagaimana Saja Kondisinya? Simak di Sini
YOGYAKARTA - Perawatan ortodonti dengan behel gigi semakin populer karena selain berfungsi untuk memperbaiki estetika senyum, tetapi juga meningkatkan fungsi pengunyahan dan kesehatan mulut secara menyeluruh. Banyak orang beranggapan bahwa semua kondisi gigi bisa dirapikan dengan behel. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Ada beberapa kondisi gigi dan mulut tertentu yang menjadikan pemasangan behel tidak dianjurkan, ditunda, atau bahkan tidak dapat dilakukan sama sekali. Pemahaman mengenai gigi yang tidak bisa dibehel sangat penting agar pasien mempunyai ekspektasi yang realistis dan dapat menentukan perawatan yang paling tepat sesuai dengan kondisi medisnya.
Pengertian Behel Gigi
Dilansir dari laman Oral Health, behel gigi merupakan alat yang digunakan untuk memperbaiki struktur gigi yang tidak rapi, misalnya gigi yang jaraknya renggang, saling bertumpuk,gigi tonggos(terlalu maju ke arah depan), dan memperbaiki permasalahan pada posisi rahang.
Jenis behel gigi juga sangat beragam, mulai dari behel gigi konvensional, behel gigi, behel transparan, behel keramik,behel damon, dan behel lingual. Dokter biasanya akan menyarankan behel gigi yang tepat sesuai dengan kebutuhan gigi.
Pemasangan behel pada gigi juga bisa menyebabkan gigi terasa sedikit ngilu dan sakit selama kurang lebih satu minggu. Jika rasa sakit semakin mengganggu, maka dokter mungkin akan memberikan resep obat yang berguna untuk mengurangi rasa sakit.
Pemasangan behel gigi juga bisa menyebabkan sisa makanan lebih mudah terselip, oleh karena itu gigi yang dibehel membutuhkan perawatan lebih supaya gigi tetap bersih. Akar gigi juga bisa memendek yang disebabkan oleh tekanan dari kawat dan susunan gigi mungkin bisa kembali seperti awal jika saat pelepasan behel gigi tidak sesuai dengan arahan dokter.
Alasan Tidak Semua Gigi Bisa Dibehel
Behel bekerja dengan cara memberikan tekanan bertahap untuk menggerakkan gigi ke posisi yang diinginkan. Proses ini membutuhkan jaringan penyangga gigi, seperti tulang rahang dan gusi, yang sehat dan kuat. Jika struktur pendukung tersebut bermasalah, maka pergerakan gigi justru bisa menimbulkan komplikasi serius. Selain itu, kondisi kesehatan umum dan kebersihan mulut pasien juga berperan besar dalam menentukan apakah seseorang layak menjalani perawatan behel.
Beberapa kondisi memerlukan perawatan awal sebelum behel dipasang, seperti penambalan gigi berlubang, perawatan saluran akar, atau terapi penyakit gusi. Dalam kasus tertentu, dokter gigi atau ortodontis bahkan akan menyarankan alternatif lain selain behel, misalnya perawatan prostodonti atau bedah rahang, demi keselamatan dan hasil yang optimal.
Baca juga:
Macam-Macam Kondisi Gigi yang Tidak Bisa Dibehel
Berikut ini beberapa jenis dan contoh kondisi gigi yang umumnya tidak dapat langsung atau sama sekali dipasangi behel:
Penyakit Gusi Parah (Periodontitis)
Gusi yang mengalami peradangan berat dan pengeroposan tulang penyangga gigi merupakan kontraindikasi utama pemasangan behel. Jika behel dipaksakan, maka gigi berisiko menjadi semakin goyang hingga akhirnya tanggal. Pada kasus ini, perawatan gusi harus dilakukan terlebih dahulu dan tidak semua pasien bisa kembali menjalani perawatan ortodonti setelahnya.
Gigi Goyang atau Kehilangan Banyak Gigi
Gigi yang sudah goyang akibat trauma atau penyakit tertentu tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk digerakkan. Behel menjadi tidak efektif karena tidak ada titik tumpu yang memadai untuk mengatur posisi gigi yang tersisa pada pasien yang kehilangan banyak gigi.
Gigi Berlubang Parah atau Infeksi Aktif
Gigi dengan lubang besar, infeksi, atau abses tidak boleh langsung dipasangi behel. Tekanan dari behel dapat memperparah infeksi dan menimbulkan rasa nyeri hebat, oleh karena itu gigi tersebut harus dirawat atau bahkan dicabut terlebih dahulu.
Masalah Rahang yang Membutuhkan Operasi
Pada beberapa kasus maloklusi berat, seperti rahang atas dan bawah yang sangat tidak sejajar, behel saja tidak cukup. Kondisi ini memerlukan kombinasi perawatan ortodonti dan bedah ortognatik. Pemasangan behel tidak akan memberikan hasil yang memadai tanpa operasi.
Tulang Rahang yang Sangat Tipis atau Rusak
Pergerakan gigi memerlukan tulang rahang yang cukup tebal dan sehat. Jika tulang rahang sudah mengalami resorpsi berat, misalnya akibat pemakaian gigi tiruan dalam waktu lama, pemasangan behel bisa berisiko menyebabkan kerusakan lebih lanjut.
Kebersihan Mulut yang Sangat Buruk dan Tidak Kooperatif
Pasien yang tidak mampu menjaga kebersihan gigi dan mulut berisiko tinggi mengalami kerusakan gigi selama perawatan behel. Jika pasien tidak kooperatif, maka dokter biasanya akan menolak pemasangan behel demi mencegah masalah yang lebih serius.
Behel gigi memang menjadi solusi efektif untuk merapikan gigi, namun tidak semua kondisi gigi dan mulut cocok untuk perawatan ini. Gigi yang tidak bisa dibehel umumnya berkaitan dengan masalah kesehatan gusi, tulang rahang, kondisi gigi yang sudah rusak parah, atau ketidakseimbangan rahang yang berat.
Oleh karena itu, pemeriksaan menyeluruh oleh dokter gigi atau ortodontis sangat penting sebelum memutuskan pemasangan behel. Pasien dapat mengetahui apakah behel merupakan pilihan terbaik atau justru membutuhkan perawatan alternatif yang lebih aman dan sesuai dengan diagnosis yang tepat. Pemahaman ini akan membantu pasien menjaga kesehatan mulut jangka panjang sekaligus menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Demikian ulasan mengenai gigi yang tidak bisa dibehel. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.