Profil Chen Zhi dan Skandal Pencurian Miliaran Dollar Mata Uang Kripto di Jantung Kamboja
YOGYAKARTA - Menggali profil Chen Zhi dan mengungkap fakta mengejutkan mengenai dugaan keterlibatannya dalam scam kripto terbesar. Dirinya masuk dalam jaringan penipuan siber internasional di wilayah Kamboja dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun memiliki perawakan berjanggut tipis dan wajah yang tampak polos, otoritas Amerika Serikat justru menuduhnya telah membangun kerajaan kriminal yang merugikan banyak orang di seluruh dunia.
Profil Chen Zhi
Dilansir VOI dari berbagai sumber, berikut ini profil dan beberapa hal menarik terkait Chen Zhi yang perlu Anda ketahui:
Dari Pengusaha Warnet
Menurut VN Express, perjalanan hidup profil Chen Zhi dimulai secara sederhana di Provinsi Fujian, China, di mana ia mengawali kariernya dengan mengelola sebuah warung internet (warnet).
Nasib berubah drastis saat Chen Zhi menginjakkan kaki di Kamboja pada tahun 2011. Hanya dalam waktu singkat, ia berhasil mendirikan Prince Holding Group pada tahun 2015, yang kemudian menjadi mesin penggerak utama transformasi kota pelabuhan Sihanoukville menjadi pusat kasino dan real estate mewah.
Di bawah kendali Chen Zhi, Prince Holding Group merambah hampir seluruh sektor vital, mulai dari apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, hingga memegang lisensi perbankan dan jasa keuangan.
Kecepatan pertumbuhan kekayaan Chen Zhi ini seringkali menjadi sorotan, mengingat ia mampu membangun imperium bisnis yang melekat erat dengan standar internasional dalam waktu kurang dari satu dekade.
Akhir Pelarian Sang "Raja Scam" Kamboja
Dilansir dari laman Asgam, setelah sempat menjadi buronan internasional, pelarian profil Chen Zhi berakhir di tangan otoritas Kamboja pada awal Januari 2026.
Dalam operasi kerja sama lintas negara, Chen dideportasi kembali ke China bersama dua rekan lainnya, Xu Ji Liang dan Shao Ji Hui.
Tak hanya ditangkap, kewarganegaraan Kamboja milik Chen juga resmi dicabut melalui dekrit kerajaan, menandai runtuhnya perlindungan politik yang selama ini ia nikmati.
Baca juga:
Dakwaan Berat dari Departemen Kehakiman AS
Kasus ini mencatatkan sejarah kelam dalam dunia finansial digital. Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat mendakwa Chen Zhi atas konspirasi penipuan dan pencucian uang.
Baca juga artikel yang membahas Ajaib: Bitcoin Melesat ke Rp1,56 Miliar, Strategy Kembali Borong BTC
Tak main-main, pemerintah AS telah menyita sekitar 127.271 Bitcoin senilai lebih dari US$15 miliar (setara Rp232 triliun). Angka ini tercatat sebagai penyitaan mata uang kripto terbesar yang pernah dilakukan oleh otoritas penegak hukum di dunia.
Kerajaan Bisnis di Atas Penderitaan Manusia
Di balik kemegahan Prince Holding Group yang menggurita di sektor properti dan perbankan, terungkap sisi gelap yang mengerikan. Chen dituduh mengelola setidaknya 10 kompleks "scam compounds" di Kamboja.
Di berbagai tempat di Kamboja, para pekerja migran diduga diperdagangkan, disekap dalam fasilitas berpagar kawat berduri, dan dipaksa menjalankan skema penipuan investasi kripto atau pig butchering di bawah ancaman kekerasan.
Sanksi Global dan Pembekuan Aset London
Skandal ini memicu reaksi keras dari berbagai negara. Inggris, Singapura, hingga Korea Selatan telah menjatuhkan sanksi terhadap jaringan bisnis Chen. Di London, aset-aset mewah senilai jutaan Poundsterling, termasuk rumah mewah dan blok kantor di pusat distrik finansial telah dibekukan.
Meskipun pihak Prince Group sempat membantah segala tuduhan, bukti-bukti digital dan pengakuan saksi memperkuat posisi jaksa internasional.
Demikian pembahasan mengenai profil Chen Zhi yang menjadi pengingat tajam bahwa kemewahan hasil penipuan kripto tidak akan bertahan lama, sekaligus membuktikan bahwa kolaborasi hukum lintas negara mampu meruntuhkan tembok perlindungan kriminal terkuat sekalipun.