Menulis Resolusi Tahun Baru Jadi Bentuk Self Love yang Lebih Nyata

JAKARTA - Menulis resolusi tahun baru telah menjadi ritual tahunan bagi banyak orang. Di penghujung tahun, kertas, catatan ponsel, hingga unggahan media sosial dipenuhi daftar harapan dan target hidup yang ingin dicapai di tahun berikutnya.

Bagi sebagian orang, resolusi menjadi simbol awal yang baru, sementara bagi yang lain justru memicu tekanan karena bayang-bayang kegagalan di tahun sebelumnya.

Psikolog klinis di Personal Growth, Phoebe Ramadina, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa resolusi sebaiknya tidak dipahami sebagai tuntutan keras terhadap diri sendiri. Menurutnya, resolusi ideal justru berangkat dari sikap menyayangi diri dengan menetapkan langkah-langkah yang realistis dan sesuai kapasitas.

“Mulailah dari langkah kecil yang realistis, fokus pada proses, dan beri apresiasi pada setiap kemajuan sekecil apa pun,” kata Phoebe seperti dikutip ANTARA.

Ia menilai banyak orang kerap terjebak membuat resolusi yang terlalu umum, terlalu tinggi, atau bahkan terlalu banyak dalam satu waktu. Akibatnya, resolusi tersebut terasa membebani sejak awal dan sulit dijalankan secara konsisten.

Dalam proses menyusun resolusi, Phoebe juga menekankan pentingnya menyesuaikan target dengan nilai hidup dan kondisi pribadi. Ia mengingatkan agar tidak membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, karena setiap individu memiliki ritme, tantangan, dan sumber daya yang berbeda.

“Resolusi yang sehat sebaiknya spesifik, jelas, bisa diukur, dan dapat dilakukan secara bertahap. Resolusi juga perlu relevan dengan kebutuhan emosional dan situasi hidup kita sekarang, bukan sekadar mengikuti standar orang lain,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Resolusi yang terukur dan jelas, lanjutnya, membantu otak membangun kebiasaan baru karena target terasa lebih masuk akal dan tidak menimbulkan rasa takut. Dengan pendekatan bertahap, resolusi juga lebih mungkin dijalani dengan perasaan positif, bukan tekanan.

Phoebe juga menekankan bahwa resolusi yang tidak tercapai di tahun sebelumnya bukanlah tanda kegagalan. Hal itu justru bisa menjadi sinyal adanya faktor tertentu yang perlu dievaluasi, seperti target yang kurang realistis, perubahan kondisi hidup, atau kelelahan fisik dan emosional yang belum diperhitungkan.

“Apa yang terpenting adalah melakukan refleksi, bukan menghakimi diri. Kita perlu bertanya dengan jujur pada diri sendiri tentang hambatan apa yang muncul, lalu menyesuaikan kembali target agar lebih sesuai dengan kapasitas kita. Sikap ini membantu kita belajar dari pengalaman, dan tidak tenggelam dalam rasa bersalah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Phoebe menegaskan bahwa resolusi tahunan tidak harus selalu tercapai sepenuhnya. Ketika resolusi tidak terwujud, hal itu tidak otomatis membuat seseorang menjadi pribadi yang gagal atau kurang berharga. Bisa jadi, seseorang justru mengalami pertumbuhan, perubahan prioritas, atau menjadi lebih sadar akan batas dirinya.

Menurutnya, resolusi paling sehat adalah yang diposisikan sebagai alat refleksi dan penunjuk arah pertumbuhan diri, bukan kontrak kaku yang harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan dinamika kehidupan.