Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan dan Cara Efektif Mengurangi Kebiasaan Ini

YOGYAKARTA - Dampak doomscrolling semakin sering dibahas karena kebiasaan ini telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Doomscrolling terjadi ketika seseorang terus-menerus menggulir berita dan unggahan di media sosial tanpa henti. Kebiasaan ini sering berlangsung tanpa disadari dan dapat memengaruhi kondisi mental.

Fenomena ini kini dialami oleh siapa saja yang memiliki ponsel atau komputer. Akses berita yang sangat cepat membuat doomscrolling menjadi hal yang sulit dihindari. Berikut akan dibahas dampak doomscrolling terhadap kesehatan dan cara mengurangi kebiasaan ini. Dengan memahami dampaknya, Anda dapat lebih mudah membangun batasan yang lebih sehat.

Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Mental

Doomscrolling memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental jika tidak segera dikendalikan. Dilansir dari University Hospitals, berikut beberapa dampak doom scrolling terhadap kesehatan mental.

  1. Meningkatkan risiko depresi dan kecemasan

Ketika seseorang terus melihat berita negatif, rasa cemas dapat meningkat secara signifikan. Bahkan, bagi sebagian orang, doomscrolling dapat memicu serangan panik yang membuat kondisi semakin buruk.

  1. Memperkuat pikiran negatif yang sudah ada sebelumnya

Saat seseorang merasa khawatir, mereka cenderung mencari berita yang mengonfirmasi kekhawatirannya, sehingga membentuk lingkaran setan. Semakin lama doomscrolling berlangsung, semakin sulit bagi otak untuk keluar dari pola negatif tersebut.

  1. Gangguan Tidur

Masalah tidur juga menjadi salah satu dampak umum dari doomscrolling. Banyak orang melihat ponsel sebelum tidur dan tanpa sadar menghabiskan waktu lama menggulir berita. Aktivitas ini merangsang otak secara berlebihan sehingga mengganggu kualitas tidur dan membuat tubuh sulit beristirahat.

  1. Meningkatkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin

Lonjakan hormon ini menyebabkan tubuh tegang, mudah lelah, serta rentan mengalami kelelahan emosional. Dalam jangka panjang, efek ini dapat mengurangi produktivitas dan kesehatan fisik.

Dewasa muda dan remaja lebih rentan karena otak mereka masih dalam tahap perkembangan. Penggunaan media sosial yang intens membuat kelompok ini lebih mudah kecanduan doomscrolling. Kondisinya mirip dengan perilaku adiktif lainnya yang melibatkan pelepasan dopamin di otak.

Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling

Mengurangi doomscrolling bukan berarti berhenti mengakses berita sepenuhnya. Seseorang tetap perlu terinformasi, namun tidak dengan mengorbankan kesehatan mental. Kuncinya adalah menerapkan batasan digital yang membuat otak memiliki waktu untuk kembali ke kondisi normal.

Dilansir dari Harvard Health, Dosen di Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial di Harvard Medical School, Dr. Aditi Nerurkar dan profesor psikiatri di Harvard Medical School, Dr. Richard Mollica, menyarankan pendekatan berikut:

Pertama, jauhkan ponsel dari meja samping tempat tidur. Dengan menjauhkannya dari jangkauan, Anda mengurangi dorongan untuk langsung mengecek layar saat bangun tidur. Hal ini dapat menciptakan rutinitas pagi yang lebih sehat dan bebas stres.

"Ini bisa menjadi perubahan terbesar untuk mengurangi stres akibat doomscrolling," kata Dr. Nerurkar.

Hal serupa bisa diterapkan di ruang kerja, yaitu dengan meletakkan ponsel di laci atau pada jarak lebih dari tiga meter. Langkah ini memberi Anda kesempatan untuk fokus pada pekerjaan tanpa gangguan notifikasi. Dengan begitu, Anda tidak mudah tergoda untuk nge-scroll secara impulsif.

Membatasi penggunaan ponsel saat makan juga penting untuk menciptakan kesadaran penuh terhadap aktivitas sehari-hari. Letakkan ponsel jauh dari tangan dan aktifkan mode senyap ketika berada di meja makan. Kebiasaan ini membantu membangun hubungan sosial yang lebih sehat dengan orang-orang sekitar.

Mengubah tampilan layar menjadi skala abu-abu adalah strategi lain yang cukup efektif. Warna yang berkurang membuat ponsel terlihat kurang menarik dan mengurangi dorongan visual untuk terus menggulir.

"Ada beberapa data awal yang menunjukkan bahwa ini mengurangi waktu penggunaan layar," kata Dr. Nerurkar.

Menonaktifkan notifikasi juga menjadi cara praktis untuk mengurangi doomscrolling. Notifikasi yang terus berbunyi membuat otak merasa perlu mengecek ponsel setiap saat. Dengan mematikan notifikasi, Anda dapat mengendalikan perangkat, bukan sebaliknya.

Selain itu, fokuslah pada berita lokal atau komunitas yang cenderung lebih positif dan membangun. Berita lokal biasanya lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari dan tidak terlalu memicu stres. "Tetaplah berada di lingkungan tempat Anda tinggal," kata Dr. Mollica.

Anda juga dapat belajar mengatakan tidak kepada orang-orang yang sering membagikan berita negatif. Hal ini memberi Anda kendali lebih besar atas kondisi emosional Anda dan juga membantu menciptakan batasan sosial yang sehat.

Selain itu, Dr. Mollica menyaran untuk mengalihkan perhatian pada hal-hal positif. Berpartisipasi dalam kegiatan bermanfaat dapat memberikan pengalaman emosional positif dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Terakhir, jika doomscrolling sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Berbicara dengan dokter atau terapis dapat membantu menemukan strategi yang lebih personal untuk mengatasi kebiasaan tersebut.

“Sebagian kecil orang benar-benar membutuhkan bantuan profesional, dan tempat terbaik untuk memulai adalah dengan berbicara kepada dokter perawatan primer Anda tentang hal itu. Masalah tertentu sangat sulit diatasi sendiri,” kata Dr. Mollica.

Demikian pembahasan dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental dan cara mengurangi kebiasaan ini. Dengan menerapkan batasan dan pengelolaan waktu layar, Anda dapat mengurangi dampak buruk doomscrolling.

Selain pembahasan dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!