Bencana Ekologis Di Sumatera
JAKARTA - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada 25-30 November 2025, menyisakan korban dan ribuan pengungsi yang kehilangan harta benda termasuk rumah tinggal. Pemerintah serasa gagap menangani bencana itu, meski sejumlah orang meminta bencana yang terjadi di Aceh - Summatera dinyatakan status bencana nasional.
Pemerintah sudah bisa ambil alih, mesti sebelumnya berapa pemda menyatakan tak sanggup menangani sendiri musibah itu, bahkan ada beberapa bupati di lokasi itu menyatakan tak sanggup dan mengangkat bendera putih tanda menyerah.
Beberapa masyarakat seperti frustasi menunggu datangnya bantuan, hingga ada beberapa Lembaga secara mandiri berinisiatif mengambil langkah bergerak untuk menyelamatkan mereka, di tengah kebimbagan pemerintah. Ada sebagian masyarakat yang terpaksa mengkonsumsi air hujan air karena belum adanya air bersih.
Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq setelah mengetahui asal kayu-kayu itu berasal dari PT Agincourt Resources, PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), dan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) adalah pengembang PLTA Batang Toru, yang diduga merusak DAS. Belakangan DAS Batang Toru dan DAS Garuga dinyatakan disegel akibat ditemukan perusahaan di Kawasan hutan DAS tersebut, akibat kerusakan DAS yang diketahui penyebab banjir dan membawa kayu- kayu terbawa arus.
Berbagai penilaian mengidentifikasi apa sebenarnya yang terjadi dengan kejadian bencana di lokasi itu. Gubernur Aceh, Mualim menyebut kejadian itu mengingatkan seperti kejadian tsunami kedua bagi Aceh, karena demi melihat kerusakan yang ditimbulkan.
Pengajar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Annisa Trisnia Sasmi, S.Si, banjir bandang di Sumatera, bukan faktor tunggal, tetapi kombinasi oleh beberapa fakt0r, selain siklon tropis, juga akibat keserakahan manusia dalam mengelola alam.
Baca juga:
Data meteorologi menunjukkan hujan yang mengguyur pulau Sumatera mencapai lebih dari 300 milimeter per hari, angka yang tergolong ekstrem untuk wilayah tropis. Kondisi ini diperkuat keberadaan Siklon Tropis Senyar (sebelumnya terdeteksi sebagai bibit badai 95B) di Selat Malaka, yang menarik uap air dalam jumlah besar dan memusatkan presipitasi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Banjir bandang dan tanah longsor itu menenggelamkan beberapa desa, merusak fasilitas umum, dan memutusnya akses listrik, jalan, dan melumpuhkan komunikasi. Situasi pun terus memburuk dari hari ke hari. Sebagian warga tak bisa mendapatkan pertolongan karena akses jalan terputus di beberapa titik.
Dashboard Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat angka korban terus meningkat. Data per 4 Desember 2025 pukul 13.05 WIB, jumlah korban meninggal sempat tervalidasi angka korban mencapai 776 jiwa, 564 hilang, dan 2,6 ribu jiwa luka-luka. Data pada hari ke 7 bencana BNPB mengkonfirmasi jumlah korban meninggal mencapai 841 orang dan ratusan orang dinyatakan hilang
Sumatera adalah rumah bagi gunung-gunung api aktif, patahan besar seperti Sesar Sumatera, dan curah hujan tropis yang tinggi. Setiap tahun, alam bekerja dengan siklusnya sendiri, hujan turun deras, sungai membawa lumpur dari pegunungan, dan bumi sesekali bergetar.
Ketika hujan turun terlalu lama, lereng-lereng yang rapuh mulai melemah. Tanah yang dulu kokoh menjadi jenuh airnya. Pada malam tertentu, terdengar suara lirih—keras bagai retakan kecil—tanda pergerakan struktur tanah tanda alam tengah gelisah.
Namun alam tidak hanya gelisah; ia juga menangis. Hutan-hutan Sumatera yang luas dulu menjadi penjaga air, penyimpan karbon, dan perisai bencana. Tetapi dekade dekade terakhir, sebagian hutan berubah menjadi kebun monokultur, tambang terbuka, dan kawasan terbangun.
Pohon-pohon besar yang akarnya mengikat lereng sudah banyak berkurang. Sungai yang dulu jernih kini tampak membawa lumpur lebih pekat. Ketika hujan deras datang, air tak lagi meresap perlahan ke tanah ia mengalir liar, membuat sungai meluap dan lereng runtuh.
Ekologi yang terganggu membuat alam kehilangan keseimbangannya.
Di beberapa tempat, pembangunan jalan, permukiman, dan aktivitas ekonomi dilakukan tanpa perhitungan menyeluruh terhadap daya dukung tanah. Bagian bukit dipotong terlalu curam, saluran air tidak memadai, dan drainase buruk.
Ketika hujan ekstrem turun, yang kini semakin sering karena perubahan iklim, air meluber dari segala arah. Tanah lereng yang terpotong mudah longsor. Sementara masyarakat di hilir menghadapi banjir yang datang lebih cepat dan lebih besar dari sebelumnya.
Lautan makin hangat, uap air makin banyak, hujan ekstrem makin sering. Di Sumatera, pola cuaca tak lagi mudah diprediksi. Hujan tiba-tiba datang di luar musim. Sungai-sungai kecil mendadak penuh. Kebakaran hutan lebih mudah terjadi saat kemarau memanjang. Bahkan tak terelakan menyapu segala yang dilewatinya sejumlah rumah hanyut terutama di sekitar aliran sungai, sejumlah infrastruktur yang dilewati hanyut, pemukiman sekitar pinggir sungai, beberapa jembatan dan fasilitas jalan dan dan infrastruktur mengalami kerusakan dan
Data Walhi dari laporan dari DLKH tahun 2019 jumlah tutupan sawit disekitar Sumatera Utara dan Aceh, mencapai yang ditanam ada dihulu sungai 3,37 juta. dikawasan Sebagian besar DAS. Tak lagi bisa diamndalkan meenampung air akibatnya DAS lag berfungsi penampungan air.
Ahli mencatat rusaknya daya dukung lingkungan akibat menguatnya aspek tanaman hutan yang diganti menjadi tanaman monokultur seperti sawit menjadi melemah alam Sumatera. Sehingga mudah menjadi daerah yang mudah banjir dan tanah longsor, terutama di daerah topografi curam dan perbukitan. Perubahan fungsi lahan tanpa kajian risiko. Drainase buruk dan tata ruang tidak sesuai dengan daya dukung.
Juga hujan diperparah dengan faktor perubahan Iklim, hujan ekstrem lebih sering, pola cuaca tidak menentu, risiko banjir dan longsor meningkat
Belakangan DAS Batang Toru dan DAS Garuga dinyatakan disegel akibat ditemukan perusahaan Kawasan hutan di sekitar DAS tersebut, akibat kerusakan DAS yang diketahui setelah banjir membawa kayu belok.
Menurut Direktur Eksekutif Chelios, Bima Yudistira. kerugian akibat banjir bandang mencapai 68 triliun di Sumatera mencapai 68 triliun. Dan tersebut telah disiapkan Menteri Keuangan Purbawa, menurutnya jika dana tak mencukupi pihnnya siap menambangkan.