Rupiah Diprediksi Tertekan, Pasar Tunggu Sejumlah Data serta Arah Kebijakan the Fed

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 4 Desember 2025 diprediksi akan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Rabu, 3 Desember, Kurs rupiah spot ditutup turun 0,02 persen ke level Rp16.628 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup stagnan di level harga Rp16.632 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, menyampaikan berdasarkan perangkat CME FedWatch bahwa pelaku pasar kini memprediksi peluang pemangkasan suku bunga The Fed mencapai sekitar 90 persen pada pertemuan 9–10 Desember. 

"Di saat yang sama, sinyal melemah dari data ekonomi AS telah memperkuat spekulasi tentang pemangkasan suku bunga," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Kamis, 4 Desember. 

Ia menjelaskan investor juga tengah menantikan rilis Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP sektor swasta untuk November, serta data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan September yang tertunda, dan kedua indikator tersebut menjadi perhatian utama The Fed.

"Pasar juga berspekulasi tentang pergantian kepemimpinan di The Fed. Laporan menunjukkan bahwa Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih yang dikenal karena dukungannya terhadap suku bunga yang lebih rendah, adalah kandidat terdepan untuk menggantikan Ketua saat ini, Jerome Powell," ucapnya. 

Menurutnya prospek ini semakin memperbesar antisipasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar di bawah kepemimpinan baru.

Sementara dari dalam negeri, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter, termasuk kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan hingga 50 basis poin.

OECD mencatat bahwa siklus penurunan suku bunga yang berlangsung sejak Agustus 2024 telah menurunkan BI rate dari 6,25 persen menjadi 4,75 persen.

Namun, Ibrahim menyampaikan penurunan tersebut belum sepenuhnya tercermin pada suku bunga kredit perbankan maupun imbal hasil obligasi korporasi, yang baru turun tipis dari posisi awal siklus pelonggaran. 

Ia mengatakan pertumbuhan kredit pun dinilai masih jauh di bawah rata-rata historis sebelum pandemi maupun sebelum pelonggaran dimulai.

Menurutnya dengan proyeksi inflasi yang stabil dan permintaan domestik yang bergerak di kisaran tren, OECD menilai peluang pelonggaran lanjutan masih terbuka.

"Namun, OECD menekankan pentingnya pendekatan data-dependent agar BI mampu menyeimbangkan antara kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan kewaspadaan terhadap risiko inflasi, terutama dari depresiasi rupiah sekitar 3 persen terhadap dolar Amerika sejak awal tahun," jelasnya. 

Ia menyampaikan pelemahan tersebut sebagian disebabkan oleh menyempitnya selisih suku bunga antara Indonesia dan negara-negara maju.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 4 Desember 2025 dalam rentang harga Rp16.620 - Rp16.640 per dolar AS.