Dokter Anak Soroti Krisis Nutrisi Bayi di Pengungsian Banjir Sumatera–Aceh
JAKARTA - Dalam situasi bencana banjir Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Subar), dan Aceh, kebutuhan ibu dan anak menjadi perhatian kritis yang harus ditangani dengan cepat dan tepat.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui para dokter di lapangan menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pangan, dukungan terhadap pemberian ASI, pengadaan dapur MPASI, serta bantuan perlengkapan non-makanan bagi keluarga pengungsi.
Hal ini disampaikan oleh PIC Satgas Penanggulangan Bencana IDAI Subar, dr. Rahmat Syawqi, Sp.A, dan diperkuat oleh Wakil Ketua IDAI Cabang Sumut, Dr. dr. Eka Airlangga, MKed(Ped), SpA, dalam sesi pemaparan kondisi terbaru dari wilayah bencana.
Dr. Rahmat Syawqi membuka penjelasannya dengan menekankan kebutuhan pangan merupakan hal paling mendesak saat ini.
"Hal yang paling dibutuhkan di masyarakat sekarang ya butuhnya untuk makanan, lebih utama makanan," tegasnya melalui live Instagram @idai_ig pada Senin, 1 Desember 2025.
Ia menjelaskan bahwa bayi merupakan kelompok paling rentan, terutama bayi yang masih dalam fase konsumsi ASI dan MPASI.
"Untuk bayi ini, masalahnya bayi apalagi yang masih ASI dan juga MPASI," ujarnya.
Menurutnya dalam kondisi pengungsian, akses kepada makanan khusus bayi sering kali terabaikan, sehingga membutuhkan perhatian khusus.
Wakil Ketua IDAI Sumatera Utara, Dr. Eka Airlangga mengungkapkan pentingnya kehadiran dapur MPASI di lokasi pengungsian.
"Kita harapkan setiap ketika hujan itu kalau ada yang langsung menyediakan dapur MPASI, jadi tidak perlu makanan instan.” jelasnya.
Baca juga:
Ia menegaskan pemberian makanan instan seperti mi instan pada bayi merupakan praktik sangat berbahaya.
"Kalau ada tenaga-tenaga yang bisa turun untuk menyiapkan dapur MPASI itu akan luar biasa sekali, sangat bagus sekali," imbuhnya.
"Jangan sampai nanti malah anak-anak selalu diberikan mi instan, itu yang menjadi khawatir," lanjutnya.
Menurut IDAI, dapur MPASI seharusnya menyediakan makanan yang sesuai standar untuk bayi dan anak kecil, terutama saat mereka tinggal di tempat pengungsian dalam jangka waktu panjang.
Selain makanan, beberapa kebutuhan lain juga sangat mendesak bagi keluarga terdampak bencana, terutama yang kehilangan rumah atau benda.
"Kedepannya nanti akan sangat dibutuhkan perlengkapan sekolah. Kemudian perlengkapan rumah juga bisa penting," tutur Dr. Eka.
Keterbatasan pakaian dan barang sehari-hari juga menjadi masalah di banyak titik pengungsian. Oleh karena itu, bantuan pakaian layak pakai, selimut, dan peralatan rumah tangga dasar sangat penting bagi keluarga terdampak.
Selain kebutuhan makanan dan nutrisi, IDAI juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan di lokasi pengungsian.
"Satu lagi yang non-medicine yang kita sediakan adalah tisu basah, terutama untuk bayi," jelas Dr. Eka.
Tisu basah membantu mencegah penularan penyakit ketika air bersih sangat terbatas.
"Sehingga tangannya selepas terkena banjir bisa dibersihkan untuk menghindari penularan penyakit melalui tangan yang kotor," bebernya.
IDAI telah menyediakan tas darurat berisi obat pribadi. Selain itu, kotak P3K dasar berisi obat penurun panas, antiseptik luka, kain kasa, dan peralatan medis sederhana sangat penting untuk penanganan awal.
"Kriteria pertama obat yang harus disediakan itu adalah jika kita atau anak kita memiliki penyakit tertentu. Nah itu obat yang harus dipersiapkan." tambahnya.