PTOI Dorong Standarisasi Profesi Terapis Olahraga di Indonesia
JAKARTA — Profesi terapis olahraga semakin dipandang penting dalam menunjang pembinaan prestasi atlet di Indonesia. Ketua Umum Persatuan Terapis Olahraga Indonesia (PTOI) Jakarta, Drs. Firmansyah, menegaskan bahwa terapis olahraga adalah tenaga profesional berbasis keilmuan olahraga, bukan sekadar jasa pijat atau massage tradisional.
Ia menjelaskan bahwa terapis olahraga terlibat langsung dalam proses pembinaan atlet, mulai masa latihan hingga kompetisi.
“Terapi olahraga merupakan bagian dari satu kesatuan proses menuju prestasi. Dari latihan sampai kompetisi, kami menjadi pihak terdekat yang menjaga kondisi atlet,”kata Firmansyah, Minggu 30 November.
Salah satu fokus utama terapi olahraga adalah pemulihan pasca latihan intensif serta pencegahan cedera. Menurut Firmansyah, cedera olahraga memiliki karakteristik khusus sehingga penanganannya harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah terkait faal, anatomi, dan mekanisme gerak tubuh.
“Untuk mencapai performa maksimal dan tetap terlindungi, dibutuhkan penanganan yang memahami anatomi dan faal tubuh, terutama terkait cedera akibat aktivitas olahraga,” katanya.
Firmansyah menegaskan bahwa terapi olahraga berbeda dari massage tradisional karena mengharuskan latar belakang pendidikan sarjana olahraga atau keilmuan yang memahami struktur tubuh serta teknik penanganan cedera. Dengan dasar ilmiah tersebut, terapis olahraga mampu menganalisis penyebab cedera secara tepat dan memberikan terapi yang terukur.
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat, profesi terapis olahraga kini semakin diminati, baik oleh mahasiswa olahraga maupun praktisi yang memilih jalur non-pelatih. Terapi olahraga juga tidak hanya dibutuhkan atlet. “Masyarakat umum yang aktif berolahraga juga dapat mengalami cedera. Terapi olahraga bisa membantu pemulihan mereka,” katanya.
Untuk memperkuat profesionalitas, PTOI tengah menyiapkan program standarisasi melalui sertifikasi dan uji kompetensi berjenjang. Penilaian akan melibatkan praktisi senior yang telah lama berkecimpung dalam dunia terapi olahraga.
“Uji kompetensi dilakukan secara bertahap, dari tingkat dasar hingga lanjutan. Tujuannya agar profesi ini memiliki standar jelas dan dapat diakui secara formal,” ujar Firmansyah.
Baca juga:
PTOI berharap peningkatan kapasitas terapis olahraga turut mendukung masa depan prestasi olahraga Indonesia. Dengan persaingan yang semakin ketat, kualitas pemulihan dan kesehatan atlet menjadi faktor penentu.
“Kami hadir untuk merawat para pelaku olahraga agar dapat meraih prestasi maksimal,” tegasnya.