Saat Angklung Menjadi Alat Diplomasi Budaya yang Menyatukan Indonesia-Rumania-Uruguay di Sekolah Tunanetra

JAKARTA - "Angklung mengajarkan satu nada saja tidak cukup untuk menjadi melodi yang indah. Harmoni hanya tercipta ketika kita bermain bersama," kata Duta Besar Meidyatama Suryodiningrat.

Deretan pipa bambu sederhana tergantung rapi di ruang serbaguna Școala Gimnazială Specială pentru Deficienți de Vedere atau dalam Bahasa Indonesia, Sekolah Menengah Pertama Khusus bagi Penyandang Disabilitas Penglihatan (impaired vision).

Di hadapan instrumen tersebut, sekitar 80 siswa dan siswi duduk tenang, menantikan alunan alat musik yang pernah mereka pelajari.

Hari itu, Senin (24/11) Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bucharest memberikan donasi 32 angklung kepada sekolah luar biasa (SLB) ini.

Donasi ini bertujuan untuk mempromosikan alat musik angklung di Eropa Timur serta mendukung adanya pendidikan inklusif bagi anak-anak di Rumania.

Donasi angklung KBRI Bucharest (KBRI Bucharest)

Angklung bukan hal baru bagi SLB tersebut. Dalam sambutannya Dubes Meidyatama bercerita, staf KBRI pernah menyaksikan pertunjukan angklung di sekolah tersebut. Alih-alih orang Indonesia, mereka dibimbing oleh Carlos Blanco Fadol, guru musik asal Uruguay.

Berawal dari cerita tersebut, Dubes Meidyatama dan Duta Besar Uruguay untuk Rumania Alberto Antonio Rodriguez Goñi berdiskusi mengenai cara membantu agar pembelajaran angklung di sekolah tetap berlanjut.

"Angklung, warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO, mengajarkan bahwa satu nada saja tidak cukup untuk menjadi melodi yg indah. Harmoni hanya tercipta ketika kita bermain bersama. Nilai kebersamaan itulah yang kami harap dapat menyatukan Indonesia, Uruguay dan Rumania," ujar Dubes Meidyatama dalam sambutannya saat menyerahkan alat musik tersebut, dikutip dari keterangan KBRI Bucharest 27 November.

Dubes Meidyatama, Cosmina Cazan, Dubes Goñi. (Sumber KBRI Bucharest)

Sementara, Dubes Goñi yang juga mewakili guru musik Uruguay menyampaikan apresiasi kepada Indonesia atas donasi angklung tersebut.

"Inisiatif ini memperlihatkan bahwa Uruguay dan Indonesia dapat menemukan kesamaan, yakni kemauan bekerja bersama, serta berkontribusi bagi generasi masa depan yang lebih baik," jelas Dubes Goñi.

Terpisah, Kepala Școala Gimnazială Specială pentru Deficienți de Vedere, Cosmina Cazan menyampaikan apresiasinya atas pemberian tersebut.

"Kami mengenali alat musik ini (angklung). Seorang guru musik dari Uruguay pernah meminjamkannya dan mengajari kami cara memainkannya. Bila dimainkan bersama, itu mengeluarkan suara yang indah," ujarnya.

Setelah penyerahan, siswa sekolah tersebut menikmati penampilan angklung modern oleh Manshur Angklung yang membawakan lagu-lagu seperti Ode to Joy, Jingle Bells hingga Wonderful Life.

Melengkapi nuansa Tanah Air, KBRI Bucharest menyajikan beragam kudapan khas Indonesia untuk para siswa, guru, staf sekolah dan tamu undangan.

Diketahui, berdiri sejak 1957, Școala Gimnazială Specială pentru Deficienți de Vedere dikelola Pemerintah Rumania dan melayani anak berusia 4 hingga 15 tahun dari berbagai daerah.

Fasilitasnya mencakup ruang kelas terang, ruang terapi khusus (termasuk Braille dan orientasi mobilitas), perpustakaan dengan lebih dari 6.000 koleksi cetak, audio dan Braille, ruang komputer dengan sintetis suara, ruang serbaguna, area olahraga, serta layanan medis dan fisioterapi yang mendukung kebutuhan siswa.