China Peringatkan Jepang akan Membayar "Harga yang Mahal" Jika Bertindak Tidak Sesuai Aturan Terkait Taiwan
JAKARTA - Kementerian Pertahanan China pada Hari Kamis memperingatkan, Jepang akan membayar "harga yang mahal" jika bertindak tidak sesuai aturan terkait Taiwan, menanggapi rencana Jepang untuk menempatkan rudal di sebuah pulau sekitar 100 km (62 mil) dari pantai Taiwan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah krisis diplomatik terburuk kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan bulan ini, serangan hipotetis Beijing terhadap Taiwan dapat memicu respons militer dari Tokyo.
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan pada hari Minggu bahwa rencana untuk menempatkan unit rudal darat-ke-udara jarak menengah di sebuah pangkalan militer di Yonaguni, sebuah pulau sekitar 110 km (68 mil) di lepas pantai timur Taiwan, "terus berjalan maju".
Ketika ditanya tentang pengerahan pasukan tersebut, yang telah dikritik oleh Kementerian Luar Negeri China, Kementerian Pertahanan mengatakan cara "menyelesaikan masalah Taiwan" adalah urusan Tiongkok dan tidak ada hubungannya dengan Jepang, yang menguasai Taiwan dari tahun 1895 hingga akhir Perang Dunia II pada tahun 1945.
"Jepang tidak hanya gagal untuk merenungkan secara mendalam kejahatan agresi dan penjajahan beratnya di Taiwan, tetapi justru, menentang opini dunia, Jepang justru terlena dengan khayalan intervensi militer di Selat Taiwan," ujar juru bicara Jiang Bin dalam jumpa pers rutin, melansir Al Arabiya dari Reuters 27 November.
"Tentara Pembebasan Rakyat memiliki kemampuan yang kuat dan sarana yang andal untuk mengalahkan musuh yang menyerang. Jika pihak Jepang berani melewati batas, bahkan setengah langkah saja, dan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, mereka pasti akan membayar harga yang sangat mahal," tambahnya.
Diketahui, Pemerintah Taiwan yang terpilih secara demokratis menolak klaim teritorial Beijing, dengan mengatakan bahwa hanya rakyat pulau itu yang dapat menentukan masa depan mereka.
Pekan ini, Presiden Taiwan Lai Ching-te mengumumkan rencana untuk menganggarkan tambahan 40 miliar dolar AS untuk pertahanan selama delapan tahun mendatang, yang dikritik Tiongkok sebagai pemborosan uang yang hanya akan menjerumuskan Taiwan ke dalam bencana.
Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Dewan Urusan Daratan Taiwan, Liang Wen-chieh, mengatakan pada Hari Kamis, anggaran pertahanan Negeri Tirai Bambu jauh lebih besar daripada Taiwan.
Baca juga:
- Rencana Uni Eropa Gunakan Aset Rusia yang Dibekukan untuk Kyiv Dapat Meningkatkan Utang
- Argentina Dukung Rafael Grossi Sebagai Calon Sekjen PBB
- Imigrasi AS Tangkap Ibu dari Keponakan Sekretaris Pers Gedung Putih
- Calonkan Diri Sebagai Presiden Dewan HAM PBB, Indonesia Usung Kepemimpinan Imparsial, Objektif dan Transparan
"Jika mereka dapat mengutamakan perdamaian lintas selat, dana ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian dan mata pencaharian masyarakat di daratan," jelasnya.
"Kedua sisi selat tidak akan seperti ini, saling bermusuhan; itu akan baik untuk semua orang," tandasnya.
Adapun militer Tiongkok beroperasi hampir setiap hari di perairan dan langit di sekitar Taiwan, yang menurut Pemerintah Taipei merupakan bagian dari kampanye intimidasi dan tekanan Beijing terhadapnya.