Review Film Agak Laen Menyala Pantiku: Lebih Kocak dan Lebih Rapi

JAKARTA - Sutradara Muhadkly Acho mempersembahkan film Agak Laen: Menyala Pantiku, film kedua dari dunia Agak Laen bersama Imajinari. Film ini juga bukan sekuel melainkan film kedua dengan cerita yang berbeda namun karakter utama yang sama.

Dengan pencapaian 9 juta penonton dalam film pertama, Acho menggarap film ini bersama produser Ernest Prakasa, Dipa Andika serta menggaet Bene Dion Radjagukguk sebagai salah satu anggota Agak Laen yang terbiasa berada di belakang layar.

Agak Laen: Menyala Pantiku menceritakan Bene (Bene Dion), Boris (Boris Bokir), Jegel (Indra Jegel), dan Oki (Oki Rengga) yang kini bekerja sebagai detektif. Mereka ditugaskan untuk terakhir kalinya mengusut kasus pembunuhan anak walikota Yamakarta.

Kabarnya, pembunuh anak tersebut menyusup ke sebuah panti jompo dan menyamar. Keempatnya lalu berusaha masuk ke panti jompo dengan berbagai cara mulai dari melamar kerja hingga menyamar sebagai kakek dan nenek.

>

Ketika mereka masuk ke panti jompo Wisma Kasih, mereka berhadapan dengan Linda (Gita Bebhita), pemilik panti yang selalu menetap di ruangannya.

Bene, Boris, Jegel dan Oki mulai melancarkan aksi mereka, namun terhalang dengan banyaknya lansia yang berada di sana.

Berkat chemistry keempat pemeran utama, film ini sudah ‘nge-gas’ sejak awal dalam menampilkan sisi komedinya. Gaya komedi investigasi yang mengingatkan kita akan film-film Thailand tapi hadir dengan kearifan lokal.

Dari segi karakter, semua karakter yang ada di film bukan tempelan semata, bahkan kehadiran para lansia di panti jompo yang menambah corak dari film. Mulai dari Egi Fedly, Jarwo Kwat, Jajang C. Noer, Chew Kin Wah, ditambah Tika Panggabean yang punya porsi sedikit tapi tetap berkesan.

Sisi komedi yang menjadi andalan juga ditampilkan dengan baik, istilahnya LPM (Laugh per Minute)-nya sangat rapat. Ada beberapa adegan di mana komedinya terus bermunculan hingga membuat penonton kesulitan fokus karena adegannya terlalu lucu.

Unsur drama yang ditampilkan jauh lebih dari rapi dari film sebelumnya. Mungkin kerapihan itu disebabkan fokus cerita lebih mengarah kepada satu karakter dibandingkan membaginya rata seperti film pertama.

Dalam “Menyala Pantiku”, fokus cerita diberikan kepada Boris yang berpisah dengan istri dan anaknya karena pekerjaan. Sang istri dan anaknya hendak pindah ke Malaysia meninggalkan Boris seorang diri. Penampilan Boris terasa emosional dan membuktikan aktingnya lebih baik.

Dengan komedi yang rapat dan sisi drama yang hangat, film Agak Laen: Menyala Pantiku membuktikan kuartet ini berhasil menampilkan ciri khas mereka tetap menyatu dengan genre apa pun.

Film Agak Laen: Menyala Pantiku bisa disaksikan di bioskop Indonesia mulai Kamis, 27 November.