Pola Asuh Orangtua di Era Digital Bantu Anak Menilai Informasi dan Menghindari Bias AI

JAKARTA - Anak-anak masa kini tumbuh bersama kecanggihan era digital dan perangkat pintar, sehingga kemampuan memahami cara kerja kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian penting dari proses belajar.

Misalnya saja kehadiran AI yang sudah hadir dalam banyak aspek kehidupan, mulai dari permainan edukasi hingga aplikasi pembelajaran sehingga literasi AI tidak lagi sekadar pengetahuan teknis, tetapi keterampilan hidup yang membantu anak menilai informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Kondisi ini membuat pola asuh di era digital mengalami perubahan besar, seperti orangtua tidak hanya mengawasi penggunaan perangkat, tetapi juga membimbing anak memahami cara kerja teknologi yang mereka gunakan.

Salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak masa kini adalah kemampuan menilai informasi secara kritis termasuk memahami bahwa AI, meskipun canggih, tetap dapat menghasilkan bias. Tanpa arahan yang tepat, anak mudah terpapar misinformasi, bergantung pada teknologi, atau menerima jawaban AI tanpa proses berpikir mendalam.

Hal tersebut diakui Ken Shelton, pakar teknologi pendidikan dari Amerika Serikat. Ia mengatakan, generasi masa kini tumbuh di lingkungan tempat AI hadir sebagai sesuatu yang umum ditemui baik melalui chatbot, aplikasi pendidikan, maupun layanan digital personalisasi. Kata dia, teknologi yang ada saat ini baru permulaan dari perkembangan yang akan datang.

"Versi AI saat ini adalah versi terburuk yang akan pernah ada," ujarnya dalam Parent Workshop bertajuk "Membesarkan Pemikir Digital: Membantu Anak Berkembang di Era AI" yang digelar HighScope Indonesia Institute dalam keterangannya kepada VOI.

Melihat kehadiran AI yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, kerja sama antara sekolah dan keluarga semakin dibutuhkan dalam hal literasi. Pembiasaan terhadap AI sejak usia dini dinilai penting agar anak tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi mampu menimbang manfaat dan risikonya.

Tim Redea turut menyampaikan kerangka literasi AI yang diintegrasikan ke berbagai jenjang, dari PAUD hingga SMA. Kerangka tersebut tidak hanya berfokus pada penggunaan AI, tetapi juga pemahaman, penilaian kritis, dan tanggung jawab etis dalam memanfaatkan teknologi.

Literasi AI dijelaskan sebagai kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan AI secara bijak sehingga alat seperti ChatGPT dan Gemini dapat mendukung pembelajaran.

Pendekatan ini dilakukan bertahap mulai dari tahap konsumsi (misalnya menggunakan Siri atau Bee-Bots), berlanjut ke pembuatan (coding dan pemecahan masalah), hingga tahap invensi, yaitu mendorong peserta didik menciptakan solusi teknologi baru. Orangtua pun dilibatkan melalui sesi literasi digital serta pendampingan psikolog terkait penggunaan teknologi dan kesehatan emosional.

Dalam workshop, Shelton juga mengajak peserta mencoba langsung bagaimana bias algoritmik dapat muncul dalam sistem AI. Redea Institute menampilkan contoh bagaimana model bahasa besar (Large Language Models/LLM) bisa menghasilkan jawaban yang condong pada perspektif tertentu.

"AI bukan otoritas kebenaran. Kitalah yang memegang otoritas itu. Tugas kita adalah bertanya, memverifikasi, dan mengajarkan anak melakukan hal yang sama. Generasi pelajar hari ini tidak akan pernah hidup di dunia tanpa kehadiran AI," ucap Shelton.

AI bisa mendukung proses belajar anak

Literasi AI untuk pendidikan anak. (dok. Redea Institute)

Para orangtua yang menghadiri acara tersebut baik secara langsung maupun daring menyampaikan harapan teknologi AI dapat mendukung proses belajar, meningkatkan efektivitas belajar, dan membantu anak berpikir lebih terstruktur.

Namun berbagai kekhawatiran juga muncul, mulai dari potensi ketergantungan hingga risiko penyalahgunaan teknologi untuk menyontek atau menyebarkan disinformasi. Tantangan ini membuat peran sekolah dalam membangun pola pikir kritis semakin penting, termasuk mengajarkan siswa membedakan fakta dari misinformasi di tengah arus informasi digital yang semakin cepat.

Menanggapi aspirasi tersebut, Redea Institute menyampaikan literasi AI tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga nilai moral seperti empati, tanggung jawab, dan kesadaran atas dampak penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan yang sama, Shelton berdialog dengan siswa SMP dan SMA mengenai pandangan mereka terhadap perkembangan teknologi dan tantangan masa depan. Percakapan ini menunjukkan pentingnya ruang diskusi yang melibatkan berbagai generasi untuk membangun kesiapan mental dan keterampilan digital.

Selain memberikan sesi untuk orangtua, Shelton juga memimpin serangkaian pelatihan bagi guru PAUD hingga SMA di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang serta pendidik dari sekolah-sekolah binaan Redea Institute.

Kehadirannya menandai kelanjutan kerja sama yang telah terjalin, termasuk keterlibatannya dalam Redea International Conference 2024 dan kegiatan penguatan kapasitas pendidik pada tahun berikutnya.

Partisipasi aktif para guru menjadi elemen penting untuk memastikan literasi AI berjalan konsisten di ruang kelas. Antarina S.F. Amir, Pendiri dan CEO Redea Institute, menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan pendidik yang terlibat dalam workshop tersebut.

"Kini saatnya kita memikirkan kembali peran kecerdasan buatan dalam pendidikan dan bagaimana kita dapat mempersiapkan anak-anak sebagai pemikir digital yang siap menghadapi tantangan masa depan.”