Pengelola The 02 London Minta Maaf Setelah Larang Penonton Konser Lorde Kenakan Kaus Palestina
JAKARTA - Pengelola arena konser The O2 di London, Inggris, resmi menyampaikan permohonan maaf setelah insiden penyitaan kaus berbendera Palestina dari dua penonton perempuan dalam konser penyanyi asal Selandia Baru, Lorde, yang digelar akhir pekan lalu.
Permintaan maaf ini menuai kritik tajam karena dugaan pelanggaran kebijakan yang disebut sebagai "salah penilaian" itu hampir serupa dengan kasus yang terjadi beberapa bulan sebelumnya.
Menurut laporan The Guardian, Francesca Humi dan Chloe Grace Laws, di mana keduanya hadir secara terpisah dalam konser Lorde di arena tersebut, dihentikan oleh petugas keamanan The O2 dan diminta untuk melepas kaus sepak bola FC Palestina yang bertuliskan "Palestine”.
Staf The O2 pada awalnya mengklaim bahwa kebijakan mereka melarang penggunaan pakaian yang memuat nama, bendera, atau lambang negara tertentu, dengan dalih dapat menyinggung pengunjung lain.
Namun, Humi dan Laws merasa perlakuan yang didapatnya diskriminatif. Melalui unggahan di Instagram, Humi menggambarkan pengalamannya sebagai sesuatu yang benar-benar mengejutkan.
Baca juga:
Ia mengenang bagaimana petugas keamanan mengatakan bahwa kaus yang ia kenakan bersifat berbahaya dan ofensif. "Dua staf keamanan menjelaskan kepada kami bahwa The O2 tidak mengizinkan kaus atau perlengkapan sepak bola negara mana pun dikenakan di dalam," tulis Humi.
"Kami menolak hal ini dan saya bertanya apakah mereka akan meminta seseorang untuk melepas kaus bergambar Union Jack, dan mereka menjawab ya. Sementara itu, kami melihat banyak kaus bertema sepak bola/kebangsaan di antara kerumunan,” lanjutnya.
Karena menolak melepas kaus dan tidak diizinkan menyimpannya di dalam tas, Humi mengaku diancam. "Mereka memanggil manajer keamanan yang mengatakan saya harus melepas kaus tersebut atau saya akan 'dikeluarkan' dari lokasi acara.”
Humi pun diantar ke area pintu masuk tempat penitipan barang-barang "berbahaya" untuk menyerahkan kausnya.
Sementara itu, Laws menceritakan bahwa seorang penjaga muda yang bersimpati padanya mengatakan bahwa bendera Israel juga sempat dilarang pada konser Haim—grup musik yang beranggotakan musisi Yahudi—di lokasi yang sama pada 28 Oktober.
Menanggapi kritikan tersebut, juru bicara The O2 dalam pernyataan resmi, mengklarifikasi bahwa arena tersebut tidak memiliki kebijakan yang melarang barang pakaian tertentu, termasuk yang menampilkan atau menyoroti masalah sosial, agama, politik, atau kebangsaan. Mereka mengakui bahwa insiden tersebut terjadi akibat salah tafsir kebijakan.
"Kami tidak selalu benar dalam setiap keputusan, dan dengan menyesal pada kesempatan ini, 'keputusan penilaian yang salah telah dibuat' terkait dua individu," ujar juru bicara. "Ini adalah hasil dari salah tafsir kebijakan yang kami miliki dan prosedur eskalasi kami tidak diikuti dengan benar. Untuk itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya."
Ironisnya, laporan menyebutkan bahwa pernyataan The O2 kali ini—termasuk janji untuk meninjau prosedur dan pelatihan—hampir identik dengan pernyataan yang mereka keluarkan musim panas lalu.
Saat itu, seorang penggemar konser Peter Kay juga dilarang masuk karena mengenakan kaus bertuliskan “Free Gaza”, dan The O2 berjanji untuk meninjau kembali kebijakannya. Pengulangan janji tanpa perubahan ini menimbulkan keraguan publik terhadap komitmen manajemen arena.
Menanggapi kontroversi tersebut, Steve Sayer, wakil presiden senior dan manajer umum The O2, menyampaikan permintaan maaf pribadi kepada Laws dan Humi. Ia menawarkan penggantian biaya tiket dan pengeluaran malam itu, serta undangan gratis untuk menonton pertunjukan lain di The O2.
Merespons balik, Humi menyatakan akan menyumbangkan seluruh penggantian biaya tersebut kepada organisasi yang mendukung Palestina.