The HM7 Bawa Budaya Sunda ke Panggung Nasional lewat Single Debut Ha Em Sepen

JAKARTA - Unsur lokal jadi tema menarik dalam perjalanan industri musik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Nilai-nilai kedaerahan bukan lagi sesuatu yang dipandang “kampungan”, melainkan sebagai kekuatan tersendiri yang bisa diterima dalam skala nasional maupun internasional.

Di tengah “gempuran” musik dari daerah timur Indonesia, The HM7 hadir dengan mengusung bahasa dan budaya Sunda sebagai identitas utama.

The HM7 yang lahir di Bandung memperkenalkan diri kepada penikmat musik Tanah Air sebagai unit yang bertekad menghadirkan musik yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral kehidupan sehari-hari.

Sebagai unit baru di blantika musik Indonesia, The HM7—beranggotakan Beben Bena, Dadang Hermawan, dan Tubagus Danny R—resmi meluncurkan single debut berjudul “Ha Em Sepen”.

“Di bulan November ini, kami The HM7 resmi merilis single perdana berjudul ‘Ha Em Sepen’, yang mengangkat cerita tentang seorang laki-laki berkeluarga—memiliki istri dan anak—namun kerap hidup dalam kebohongan kepada orang-orang terdekatnya,” kata Danny dalam keterangannya, Kamis, 20 November.

Lebih lanjut, Beben menuturkan bagaimana The HM7 menjalani proses produksi lagu yang mengalir secara alami.

“Kami memulai dengan membuat guide lagu dan mencari referensi sound yang sesuai,” tutur Beben. “Setelah komposisi mencapai sekitar 60 persen, barulah masuk ke proses take yang sebenarnya, lalu balancing, mixing, dan mastering.”

Kolaborasi dengan Dan’s Pro dan Raspati Record pun memperkuat produksi dan arah musikal The HM7 dalam merilis karya perdananya kali ini.

*Terbentuknya The HM7 untuk Perluas Eksposur Musik Sunda (SUBJUDUL)*

Proyek musik ini jelas, The HM7 memiliki visi untuk memperluas eksposur musik Sunda agar dapat bersaing dengan musik daerah lain yang sedang digemari anak muda saat ini, seperti musik Jawa dan musik dari Indonesia Timur.

“Kami ingin mendobrak pasar melalui ‘Ha Em Sepen’, agar musik Sunda dapat diperhitungkan kembali di industri musik nasional,” ujar Beben.

Meski terbilang unit musik baru, nyatanya tiga personel The HM7 adalah orang-orang lama—musisi senior yang aktif berkesenian di Tanah Sunda.

Beben Bena—pendongeng viral dengan gaya bertutur realita—adalah vokalis Mat Setun dari tahun 2017. Ia juga dikenal sebagai komedian Bandung.

Kemudian, Dadang Hermawan dikenal sebagai penulis lirik spontan, yang juga aktif menjadi produser dan penggiat musik.

Sementara, Tubagus Danny adalah penulis lagu, arranger musik, serta vokalis dan gitaris Deja Vu Band dari tahun 1993.

Adapun, kisah terbentuknya The HM7 berawal dari sekumpulan sahabat yang sering berkumpul di waktu senggang.

Dalam suasana santai dan penuh tawa, celetukan “Ah maneh mah huntu”—yang ditujukan kepada seorang teman yang sering datang terlambat—menjadi momen tak terduga yang kemudian menginspirasi nama grup ini.

Ungkapan tersebut berkembang menjadi istilah “Huntu Muruluk” dan akhirnya disepakati sebagai “Huntu Muruluk Tujuh” atau The HM7.

“Nama The HM7 ini menjadi simbol keakraban, spontanitas, dan kreativitas yang mewarnai perjalanan musik kami,” kata Dadang.

The HM7 pun berharap kehadiran mereka bisa menjadi pemantik semangat bagi masyarakat Jawa Barat untuk menjaga dan melestarikan seni dan budaya lokal.

“Dengan inovasi, kolaborasi, dan adaptasi terhadap tren musik hari ini, kami yakin musik Sunda tidak akan hilang ditelan zaman,” pungkas Beben.