Laporan eConomy SEA 2025: Nilai Ekonomi Digital Indonesia Capai Rp1.656 Triliun

JAKARTA - Laporan eConomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company mengungkapkan, nilai ekonomi digital Indonesia atau GMV-nya mencapai hampir 99 miliar dolar AS (Rp1.656 triliun).

Laporan ini memproyeksikan nilai ekonomi digital ini akan bertumbuh hingga 2030, dengan rincian sebagai berikut:

  • 2023: 80 miliar dolar AS (Rp1.338 triliun)
  • 2024: 87 miliar dolar AS (Rp1.455 triliun)
  • 2025: 99 miliar dolar AS (Rp1.656 triliun) (proyeksi)
  • 2030: 180 - 340 miliar dolar AS (Rp3.010 - Rp5.686 triliun) (proyeksi)

"Indonesia masih tetap menjadi ekonomi digital paling besar se-Asia Tenggara dan GMV-nya sekarang mencapai hampir 100 miliar dolar AS. Yang menarik, seluruh sektor kunci ekonomi digital kita juga mencatatkan pertumbuhan global," jelas Country Director Google Indonesia Veronica Utami pada Kamis, 13 November.

Di mana sektor e-commerce naik 14% menjadi 71 miliar dolar A (Rp1.187 triliun), perjalanan online alias online travel agent (OTA) naik 9% menjadi 9 miliar dolar AS (Rp150,53 triliun), kemudian transportasi dan makanan, seperti taksi online dan ojol naik 13% menjadi 10 miliar dolar AS (Rp167,2 triliun).

Selain itu, sector media online juga naik 16% menjadi miliar dolar AS Rp150,53 triliun), pembayaran digital naik 27%, pinjaman daring alias pinjol naik 29, investasi online naik 25%, dan asuransi online naik 18%.

Lebih jauh, Google, Temasek, dan Bain & Company juga mencatat transaksi belanja online, khususnya melalui fitur video atau biasa disebut video commerce,mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Jumlah penjual yang menggunakan konten video melonjak hingga 75% yoy menjadi 800 ribu, sehingga mendorong peningkatan volume transaksi 90% menjadi 2,6 miliar selama setahun.