Pencurian Artefak Romawi di Museum Terbesar Suriah, Pelakunya Diduga Perorangan Bukan Komplotan
JAKARTA - Pejabat Suriah meyakini pencurian beberapa patung kuno yang berasal dari era Romawi dari Museum Nasional Damaskus kemungkinan besar merupakan hasil karya perorangan, bukan geng terorganisir.
Museum Nasional Damaskus ditutup setelah aksi pencurian artefak Romawi itu diketahui pada Senin 10 November pagi.
Museum itu baru dibuka kembali pada Januari 2025 setelah lama ditutup, akibat perang saudara selama 14 tahun dan jatuhnya rezeim Bashar Al Assad yang telah berkuasa selama 54 tahun tahun.
Pada Rabu, sebuah kendaraan keamanan diparkir di luar gerbang utama museum di pusat kota Damaskus sementara para penjaga keamanan berjaga di dekatnya. Orang-orang tidak diizinkan masuk karena penyelidikan yang sedang berlangsung.
Dua pejabat dari Direktorat Jenderal Purbakala dan Museum Suriah mengatakan, bahwa penyelidikan telah mencapai kemajuan dan hasilnya diharapkan segera diketahui.
"Insya Allah, kita akan mencapai hasil yang baik," kata salah satu pejabat berbicara dengan syarat anonim karena tidak diizinkan untuk berbicara tentang detail penyelidikan kepada media, dikutip dari AFP.
Museum terbesar di Suriah tersebut menyimpan barang-barang antik yang tak ternilai harganya. Setelah perang saudara dimulai pada Maret 2011, keamanan ditingkatkan dengan gerbang logam dan kamera pengawas, dan pihak berwenang memindahkan ratusan artefak ke Damaskus dari seluruh penjuru negeri.
Kementerian Kebudayaan Suriah merilis pernyataan pada Rabu malam yang berisi gambar enam patung yang hilang, yang mewakili dewi Venus dari Romawi.
Kementerian tersebut memasang nomor registrasi di museum untuk setiap patung dewi cinta beserta tingginya, yang tertinggi adalah 40½ sentimeter (sekitar 16 inci).
Museum Nasional Damaskus juka membuka informasi bagi masyarakat yang mengetahui keberadaan patung-patung curian tersebut agar melapor ke pihaknya atau petugas keamanan.
Aksi pencurian tersebut membuat marah warga Damaskus yang mengatakan bahwa tindakan tersebut mencoreng citra Suriah di tengah upaya negara tersebut untuk membangun kembali negara tersebut dari perang yang menewaskan sekitar 500.000 orang.
"Ini bukan hanya agresi terhadap negara Suriah, tetapi agresi terhadap peradaban Suriah," ujar seorang warga, Waddah Khalifeh, ketika ditanya tentang pencurian tersebut.
Ia juga khawatir bahwa para pencuri mungkin bermaksud menyelundupkan patung-patung tersebut dan menjualnya ke luar negeri.
Pada Selasa pekan ini, Direktorat Jenderal Purbakala dan Museum Suriah menyatakan bahwa pencurian tersebut tidak memengaruhi aktivitas di museum dan masyarakat umum tetap mengunjungi museum seperti biasa.
Baca juga:
- Dobrak Masuk, Masyarakat Amazon Sempat Bentrok di KTT Iklim COP30 Brasil
- Pemilu Irak 2025 Hanya Diikuti 55 Persen dari Jumlah Pemilih Terdaftar
- Houthi Yaman Beri Sinyal Hentikan Serangan ke Israel dan Kapal di Laut Merah
- Komisi IX DPR Sorot Keamanan Digital PMI, Tak Ingin Kasus WNI Jadi Korban Scam Terulang