Review Film Pangku: Cerita Sederhana dari Tangan Sempurna Reza Rahadian
JAKARTA - Reza Rahadian resmi debut sebagai sutradara dengan film terbarunya, Pangku. Film ini turut menjadi film pertama dari rumah produksi Gambar Gerak yang tayang di bioskop Indonesia.
Sejumlah momen pertama lainnya juga dialami film Pangku di mana film ini menjadi debut Claresta Taufan sebagai pemeran utama. Selain itu, film ini juga diperankan Christine Hakim, Fedi Nuril, Shakeel Fauzi, Galabby Tahira, Nazira C. Noer, Devano Danendra, Khan Lativa, dan lainnya.
Film Pangku menceritakan Sartika (Claresta Taufan), seorang ibu tunggal yang pergi ke Pantura untuk memulai hidup baru. Ia mulai bekerja sebagai kopi pangku di warung kopi milik ibu Maya (Christine Hakim) setelah sang ibu membantunya bersalin.
Kopi pangku merupakan jasa yang dijajakan di mana seorang perempuan menyajikan kopi dan menemani pelanggan. Hari demi hari Sartika duduk dipangku oleh berbagai pria yang kebanyakan supir truk di Pantura.
Satu hari, Sartika menjajakan kopi pangku untuk Hadi (Fedi Nuril), seorang supir truk ikan yang kerap mampir ke warung kopi.
Interaksi antara mereka justru menimbulkan perasaan dan keinginan untuk menemani satu sama lain. Hadi dan Sartika mulai saling membutuhkan, menyadari mereka ingin satu sama lain. Namun keinginan itu tidak selalu sejalan dengan realita yang mereka hadapi.
Dengan filmografi seorang Reza Rahadian yang panjang, harusnya Anda tidak terkejut menyaksikan debut penyutradaraan Reza terasa bukan seperti debut pertama. Berbekal 20 tahun pengalaman berakting dalam film, genre, dalam berbagai format, hal itu tentu membentuk idealismenya sebagai pembuat cerita.
Menariknya, idealisme itu muncul dalam premis paling sederhana: surat cinta untuk sang ibu dan para perempuan yang bekerja keras di luar sana. Hasilnya bisa disaksikan dalam film Pangku yang penceritaannya sangat mudah dinikmati meski latar konfliknya terbilang sulit.
Penyampaiannya terasa megah, visualnya estetik tapi tetap bermakna, membuat siapa pun yang menonton mau menaruh hati besarnya untuk mengikuti perjalanan Sartika.
Tidak ada ledakan emosional dalam film ini sehingga terasa seperti slow burn yang mengalir dengan baik. Perjuangan Sartika tidak pernah disorot sebagai eksploitasi terhadap kemiskinan secara habis-habisan.
Sorotan hingga pemilihan nomor lagu di film ini juga terasa pas dan tidak sekadar tempelan. Lagu-lagu ini mendukung emosi yang disampaikan karakternya tanpa banyak berkata-kata.
Film Pangku menjadi sebuah sajian yang meneduhkan dengan berbagai lapisan cerita yang saling bersinergi, menjadikannya sebagai film Indonesia yang layak ditonton di bioskop.
Ada pun, film Pangku tayang di bioskop Indonesia mulai Kamis, 6 November.