Tech in Asia Conference 2025 Soroti Peran AI di Tengah Gejolak Startup

JAKARTA - Kecerdasan buatan (AI) menjadi inovasi teknologi yang masih menjadi sorotan di seluruh dunia. Kemajuan AI yang pesat ini mendorong startup untuk bertransformasi di tengah tekanan pendanaan dan ketidakpastian ekonomi global 

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, juga turut menekankan bahwa sebagai negara dengan ekonomi digital di kawasan ASEAN, ekosistem startup di Indonesia dinilai masih menjanjikan. 

Ia menyebutkan, Indonesia merupakan rumah bagi startup dengan jumlah terbanyak di Asia Tenggara, terhitung lebih dari 3.000 startup hingga pertengahan tahun ini, dan mencatat Gross Merchandise Value (GMV) hingga USD 90 miliar atau sekitar Rp1.420 triliun pada tahun 2024. 

“Pertumbuhan ini (AI) perlu dikelola dengan baik agar startup tidak hanya mampu menjawab berbagai tantangan, tetapi juga tetap berkelanjutan dari sisi bisnis”, ujar Meutya di gelaran Tech in Asia Conference 2025 pada Rabu, 22 Oktober di Jakarta. 

Mengusung tema “Defy Expectation”, acara ini juga menekankan pentingnya inovasi yang realistis sekaligus tangguh di tengah perubahan cepat dalam dunia teknologi. 

Chief Operating Officer Tech in Asia Maria Li pun turut menegaskan kembali komitmen perusahaan untuk terus hadir mendukung para founder di masa-masa sulit. 

Maria juga meyakini, gelombang adopsi kecerdasan buatan atau AI akan terus berkembang dan akan menjadi sesuatu yang besar di kawasan ini. 

“Contohnya sudah banyak startup yang membantu meningkatkan produktivitas perusahaan melalui AI, hingga bagaimana penerapan AI beserta etikanya, keamanan siber, maupun infrastruktur AI dan data yang akan semakin marak digunakan kedepannya,” tambah Maria.