Waspadai Penggunaan Steroid Berlebihan, Risiko Osteoporosis Mengintai Anak dan Remaja
JAKARTA - Konsumsi obat yang mengandung steroid sering kali dianggap ampuh untuk meredakan peradangan atau alergi. Namun, jika digunakan tanpa pengawasan medis atau dalam jangka waktu panjang, dampaknya bisa serius salah satunya memicu osteoporosis atau kerapuhan tulang, bahkan pada anak dan remaja.
Kondisi ini terjadi karena steroid dapat mengganggu proses pembentukan tulang, sehingga kepadatan tulang berkurang dan meningkatkan risiko patah tulang.
Dokter spesialis anak konsultan endokrinologi Frida Soesanti menjelaskan bahwa penggunaan obat-obatan berbasis steroid dalam jangka panjang atau secara berlebihan dapat berdampak langsung pada kesehatan tulang anak.
"Osteoporosis dapat disebabkan karena penggunaan steroid. Jadi, steroid itu contohnya Prednisone, Methylprenisolone, Dexamethasone. Ini digunakan kalau diperlukan, kalau sehari-hari, seperti batuk pilek, anaknya enggak usah dikasih," ujar dr. Frida Soesanti, SpA, Subsp Endo(K), PhD dalam diskusi kesehatan yang digelar secara daring dari Jakarta, seperti dikutip ANTARA.
Sebagai anggota Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Frida menegaskan bahwa obat-obatan mengandung steroid hanya boleh digunakan sesuai indikasi medis yang jelas. Penggunaan jangka panjang, apalagi tanpa resep dokter, dapat menimbulkan efek samping serius pada tulang dan pertumbuhan anak.
Ia mencontohkan, bahkan pada orang dewasa, dosis kecil Prednisone sekitar 10 mg yang dikonsumsi selama 90 hari mampu meningkatkan risiko patah tulang punggung hingga 18 kali lipat dan risiko patah tulang panggul sebanyak tujuh kali lipat.
"Di dalam tulang punggung kita ini untuk melindungi saraf yang ada di dalamnya. Patah di tulang punggung itu jangan dibayangkan kayak patah di kaki atau di tungkai, justru itu kelihatan. Kalau di punggung, enggak kelihatan, anaknya cuma merasa pegal-pegal," jelas dr. Frida.
Sebagai Kepala Divisi Endokrinologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, ia menegaskan bahwa penggunaan steroid hanya boleh diberikan ketika benar-benar dibutuhkan secara medis.
"Steroid hanya kita berikan kalau perlu. Misalnya, anaknya sedang serangan asma berat, karena itu perlu, tapi sebentar, habis itu stop. Anak dengan leukemia memang salah satu regimen untuk kemoterapinya adalah steroid. Tapi untuk sehari-hari, anaknya batuk pilek, alergi, obatnya bukan steroid," ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Frida mengingatkan bahwa penggunaan steroid yang tidak tepat dapat menghambat pertumbuhan anak.
"Jangan rutin menggunakan steroid, karena memengaruhi (risiko) patah tulangnya. Kemudian, anaknya pendek, karena dia mempengaruhi pertumbuhan tulang, pertumbuhan tinggi badan. Steroid hanya diberikan kalau memang dibutuhkan," katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap obat atau ramuan tanpa izin edar, yang berpotensi mengandung steroid tersembunyi. Kandungan semacam itu bisa tidak terdeteksi, namun efek sampingnya tetap berisiko bagi anak-anak.