CBA Minta KPK Langsung Selidiki Dugaan Korupsi Whoosh: Kalau Masih Nunggu Berarti Sama Takut Luhut-Jokowi
JAKARTA - Direktur Eksekutif Centre for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun langsung menyelidiki dugaan mark up dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.
Uchok menilai, KPK tidak harus menunggu laporan terkait kasus tersebut. Namun jika KPK hanya berdiam diri, menurutnya, maka artinya komisioner benar-benar takut dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai orang yang menyetujui proyek ini.
"Mumpung batu semen proyek Whoosh masih dingin, agar bisa secepat dibongkar oleh KPK," ujar Uchok kepada VOI, Selasa, 21 Oktober.
"KPK itu bukan raja, yang hanya menunggu laporan data dan dokumen dari masyarakat. Sebaiknya, KPK harus bergerak cepat membongkar kasus dugaan mark up proyek Whoosh tersebut. Kalau KPK masih menunggu, berarti benar komisioner dan penyidik KPK takut sekali sama Luhut dan Jokowi," lanjutnya.
Uchok lantas menyoroti pernyataan Luhut yang menyebut bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung KCJB atau Whoosh memang sudah busuk sejak awal. Uchok menilai, pernyataan tersebut aneh lantaran Luhut adalah Ketua Komite Proyek KCJB.
Mantan Koordinator Advokasi dan investigasi Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) itu menduga, Luhut sedang panik alias kebakaran jenggot lantaran muncul dugaan penggelembungan atau mark up biaya pembangunan KCJB.
"Mungkin karena muncul dugaan mark-up biaya pembangunan Kereta Whoosh, Luhut langsung bilang barang busuk. Seperti kebakaran kumis," kata Uchok.
Baca juga:
- Polandia Ingatkan Putin tak Lintasi Wilayah Udaranya ke Hongaria Jika Tak Mau Ditangkap
- Pemimpin Eropa Dukung Seruan Trump Gencatan Senjata di Ukraina, Koalisi Bertemu Jumat Pekan Ini
- Ekuador Bebaskan Pria dalam Kapal Diduga Angkut Narkoba yang Diserang Pasukan AS
- Penembak PM Slovakia Divonis 21 Tahun Penjara
Uchok pun menerangkan, Luhut ditunjuk Jokowi menjadi Ketua Komite Proyek KCJB melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana KCJB. Karenanya, Uchok menilai pernyataan Luhut seperti memercik air terkena muka sendiri.
"Ini seperti menampar air kena muka sendiri. Lalu percikan air dihapus dengan meskipun barang busuk tapi kita perbaiki," kata Uchok.
"Yang harus diperbaiki itu, bukan barang busuknya, tapi ada persoalan, pertama, ada mark up di kereta Whoosh, dan utang kereta Whoosh yang harus diminta pertanggungjawaban kepada Luhut," tegasnya.
Karena itu, mantan aktivis mahasiswa 1998 ini mendesak agar KPK jemput bola terkait dugaan mark up yang sulit ditutupi dari proyek KCJB yang digagas Jokowi sejak 2016-2023.
"Kita mendesak KPK usut itu potensi kerugian negara dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang nilai proyeknya sekitar 7,2 miliar dolar AS. Padahal semula, China mengajukan biaya 5,5 miliar dolar AS. Itu untuk apa saja? Sekarang yang nanggung utang kereta cepat, rakyat-rakyat juga lewat pajak," ungkapnya.
"kalau persoalan ini belum selesai, apa selama ini yang diperbaiki Luhut? Tentu tidak ada. Persoalan ini sudah sebagai dosa yang perlu diselesaikan bukan dengan kata kata sudah diperbaiki, tapi masuk ke ranah hukum biar aparat hukum melalukan penyelidikan," pungkasnya.