Israel Lanjutkan Gencatan Senjata dan Bantuan Usai Serangan Udara Tewaskan 26 Warga Gaza
JAKARTA - Militer Israel mengatakan gencatan senjata di Gaza dilanjutkan setelah serangan menewaskan dua tentaranya dan memicu gelombang serangan udara yang menurut Palestina menewaskan 26 orang, dalam ujian paling serius bagi gencatan senjata bulan ini.
Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata yang ditengahinya masih berlaku. Kepemimpinan Hamas, katanya, mungkin tidak terlibat dalam pelanggaran tersebut.
"Kami pikir mungkin kepemimpinan tidak terlibat dalam hal itu," katanya kepada wartawan di atas Pesawat Air Force One dilansir Reuters, Senin, 20 Oktober.
"Bagaimanapun ini akan ditangani dengan tegas tetapi tepat."
Trump mengatakan ia tidak tahu apakah serangan Israel itu dibenarkan. "Saya harus menghubungi Anda kembali mengenai hal itu," katanya.
Bantuan ke Gaza dijadwalkan untuk dilanjutkan pada Senin menyusul tekanan AS, kata seorang sumber keamanan Israel, tak lama setelah Israel mengumumkan penghentian pasokan sebagai tanggapan atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran "terang-terangan" oleh Hamas terhadap gencatan senjata.
Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang target-target Hamas di seluruh wilayah itu, termasuk komandan lapangan, orang-orang bersenjata, terowongan, dan depot senjata.
Respons ini dilakukan Israel usai militan meluncurkan rudal anti-tank dan menembaki pasukannya, menewaskan para prajurit.
Serangan tersebut menewaskan 26 orang, termasuk setidaknya satu perempuan dan satu anak, menurut penduduk setempat dan otoritas kesehatan.
Setidaknya satu serangan menghantam bekas sekolah yang menampung para pengungsi di wilayah Nuseirat, kata penduduk setempat.
"Kita harus melihat apa yang terjadi. Kami ingin memastikan bahwa semuanya akan berjalan sangat damai dengan Hamas," kata Trump.
Utusan Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Israel pada Senin, menurut seorang pejabat Israel dan seorang pejabat AS.
Sayap bersenjata Hamas mengatakan tetap berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata, tidak mengetahui adanya bentrokan di Rafah, dan belum melakukan kontak dengan kelompok-kelompok di sana sejak Maret.
Wakil Presiden AS, JD Vance, tidak menyebutkan serangan Israel ketika berbicara kepada wartawan, tetapi mengatakan ada sekitar 40 sel Hamas yang berbeda dan belum ada infrastruktur keamanan yang tersedia untuk mengonfirmasi perlucutan senjata mereka.
"Beberapa dari sel-sel itu mungkin akan menghormati gencatan senjata. Banyak dari sel-sel itu, seperti yang kita lihat beberapa buktinya hari ini, tidak akan melakukannya," ujarnya.
"Sebelum kita benar-benar dapat memastikan bahwa Hamas dilucuti dengan benar, itu akan membutuhkan beberapa negara Teluk Arab, untuk mengerahkan pasukan ke sana, untuk benar-benar menerapkan hukum, ketertiban, dan penjagaan keamanan di lapangan,” sambungnya.
Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dirinya memerintahkan militer untuk menanggapi dengan tegas apa yang ia sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas.