Sekjen Rutte Sebut NATO Sedang Meningkatkan Produki Senjata dan Sistem Pertahanan Udara
JAKARTA - Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte mengatakan pada Hari Rabu, aliansi sedang meningkatkan produksi senjata dan sistem pertahanan udara di bawah program dukungan militer baru senilai 2,2 miliar dolar AS yang dipimpin Amerika Serikat untuk Ukraina, sekaligus memperkuat langkah-langkah untuk melindungi wilayah udara NATO di tengah meningkatnya ancaman pesawat nirawak.
Berbicara kepada wartawan menjelang pertemuan para menteri pertahanan NATO di Brussels, Belgia, Sekjen Rutte mengatakan sekutu "meningkatkan produksi industri pertahanan untuk memastikan Ukraina sekuat mungkin dan tetap berada dalam pertempuran."
Sekjen Rutter mengatakan, para menteri juga akan membahas insiden pesawat nirawak baru-baru ini dan langkah-langkah untuk memperkuat pertahanan udara NATO.
"Ini akan menjadi hari yang penting," ujarnya, dikutip dari Anadolu 15 Oktober.
Ia menerangkan pertemuan kali ini akan mencakup sesi Dewan NATO-Ukraina dengan Menteri Pertahanan Ukraina Denys Shmyhal dan Kelompok Kontak Pertahanan Ukraina, yang diketuai oleh Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius bersama John Healey dari Inggris.
Dalam kesempatan ini Sekjen Rutte menyoroti program baru yang dipimpin AS yang diluncurkan pada Bulan Agustus, di mana sekutu telah berkomitmen memberikan bantuan militer mematikan dan non-mematikan senilai 2,2 miliar dolar AS kepada Kyiv.
"Ini termasuk sistem pertahanan udara dan pencegat, yang krusial untuk melindungi penduduk sipil dan infrastruktur Ukraina dari serangan gencar Rusia yang terus-menerus," ujarnya.
Ia menekankan, Uni Eropa dan NATO bekerja sama secara erat, dengan mengatakan "tidak ada duplikasi upaya."
"Kombinasi ini krusial, dan Rusia tidak berhasil memecah belah kita," tandasnya.
Mengenai pelanggaran wilayah udara Rusia, ia menggarisbawahi NATO tetap sepenuhnya mampu mempertahankan wilayah sekutu.
"Jika pesawat Rusia memasuki wilayah udara NATO dan menimbulkan ancaman, kami akan bertindak. Jika tidak, pesawat itu akan dikawal keluar. Aliansi yang kuat tahu kapan harus bertindak tegas dan kapan harus meredakan ketegangan," tegasnya.
Baca juga:
- Militer Israel Konfirmasi Jenazah Tiga Sandera yang Dikembalikan, Satu Lagi Diduga Warga Gaza
- Otoritas Ukraina Perintahkan Evakuasi Massal dari Sekitar Kupiansk
- Enggan Tingkatkan Anggaran Pertahanan, Presiden Trump Ancam Kenakan Sanksi Terhadap Spanyol
- PBB Sebut Sejumlah Negara Bersedia Membantu Pendanaan Rekonstruksi Gaza
Ia menambahkan, NATO terus belajar dari pengalaman Ukraina di medan perang dan mengadaptasi teknologi baru dalam pertahanan drone.
"Kita telah melakukan ini selama 60 atau 70 tahun, kita melakukannya dengan Soviet, dan kita terus melakukannya dengan Rusia," ujarnya.
Menolak klaim bantuan militer sekutu telah menurun, Sekjen Rutte mengatakan tingkat bantuan tetap stabil dibandingkan tahun lalu.
"Rusia mengira mereka akan memenangkan perang ini dalam tiga minggu. Sekarang, hampir empat tahun kemudian, mereka telah kehilangan 1 juta orang, tewas atau terluka parah, dan hanya memperoleh sedikit wilayah," tandasnya.