Kemenbud Dorong Film Seri Kepahlawanan Jadi Sarana Pendidikan Sejarah bagi Generasi Muda
JAKARTA — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Persiapan Pembuatan Film Seri Kepahlawanan Indonesia di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa, 14 Oktober. Forum ini menjadi langkah awal pemerintah memproduksi film seri bertema kepahlawanan nasional sebagai sarana pewarisan nilai perjuangan dan penguatan karakter bangsa, terutama bagi generasi muda.
FGD mempertemukan sejarawan, sineas, akademisi, dan pemangku kepentingan kebudayaan untuk menyatukan pandangan soal pembabakan dan narasi film yang seimbang antara keakuratan sejarah dan kekuatan dramatik sinema.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya menghadirkan tonggak sejarah yang tak boleh terlewati. Ia berharap peristiwa Proklamasi menjadi pilar utama dalam alur film, diikuti momen penting lain seperti Rapat Umum Ikada, Peristiwa Rawa Gede, dan Perjanjian Renville yang dapat disusun dengan alur maju-mundur.
“Itu tonggak besar yang sangat penting. Tapi tentu ada banyak peristiwa lain yang juga heroik — Surabaya, Medan Area, Ambarawa, Bandung Lautan Api, dan sebagainya. Tidak semua bisa ditampilkan utuh, tapi harus ada satu garis besar yang menjadi backbone cerita,” ujar Menbud Fadli Zon.
Menbud menekankan, film sejarah ini tak sekadar hiburan, tapi juga sarana pendidikan kebangsaan. Generasi muda perlu mengetahui betapa kompleks perjuangan bangsa, yang diwarnai diplomasi, perlawanan, dan semangat persatuan.
“Film ini bisa sangat kaya jika digarap dengan riset mendalam dan pendekatan kuat, baik sejarah maupun sinematografi. Kalau perlu dibuat berseri, karena dua jam film tidak akan cukup menggambarkan kompleksitas periode 1945–1950,” tambahnya.
Sejarawan Batara Hutagalung mendukung gagasan tersebut. Ia menilai kisah heroik perlu disajikan dengan sentuhan humanis agar penonton terhubung secara emosional.
“Kita perlu masukan dari para sejarawan agar kisah yang diangkat bisa diinterpretasi secara tepat oleh sineas,” ucap Batara.
Diskusi yang dimoderatori Anto Dwiastoro ini juga dihadiri pejabat Kementerian Kebudayaan, seperti Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra; Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya; serta Direktur Film, Musik, dan Seni Syaifullah. Dari kalangan sejarawan hadir Prof. Dr. Endang Susilowati, M. Yuanda Zara, Ph.D, dan Julianto Ibrahim, M.Hum. Dari dunia film, hadir Rahabi Mandra dan Robby Ertanto secara daring.
Baca juga:
Kementerian Kebudayaan berharap FGD ini melahirkan kolaborasi strategis antara pemerintah, akademisi, dan insan perfilman untuk mewujudkan film seri kepahlawanan yang inspiratif dan memperkuat nilai kebangsaan. Rekomendasi hasil FGD akan menjadi dasar laporan resmi kepada Presiden serta mendorong dukungan negara dalam pembiayaan karya film bertema perjuangan bangsa.