Lonjakan Pendanaan Startup AI Picu Kekhawatiran Gelembung Investasi
JAKARTA - Startup kecerdasan buatan (AI) sedang menarik rekor investasi dari modal ventura di seluruh dunia. Namun, sejumlah investor besar dunia mulai memperingatkan bahwa valuasi perusahaan tahap awal kini tampak terlalu tinggi dan berpotensi menimbulkan gelembung investasi.
“Sedikit banyak, ada semacam gelembung hype yang terjadi di ruang modal ventura tahap awal,” kata Bryan Yeo, Chief Investment Officer Grup di GIC, dana kekayaan negara Singapura, dalam diskusi panel di Milken Institute Asia Summit 2025 di Singapura, Jumat 3 Oktober.
Yeo menilai, banyak perusahaan rintisan yang menempelkan label “AI” langsung dihargai dengan valuasi berlipat-lipat dibandingkan pendapatan aktual mereka. “Setiap startup yang memakai label AI akan langsung dinilai dengan kelipatan besar dari pendapatan kecil mereka. Hal itu mungkin adil untuk sebagian perusahaan, tapi mungkin juga tidak untuk lainnya,” ujarnya.
Baca juga:
- Tahukah Anda! Alasan Matahari Termasuk dalam Golongan Bintang: Berikut Penjelasan Ilmiahnya
- iPhone 17 dan iPhone Air Segera Tersedia di Indonesia, iBox Buka Pendaftaran Peminat
- TikTok Live Kembali Aktif, Pemerintah Nyatakan Data Monetisasi Sudah Lengkap
- Cara Memindahkan Data dari HP Lama ke HP Baru, Simak Langkah-langkahnya di Sini
Menurut data PitchBook, pada kuartal pertama 2025, startup AI berhasil menghimpun dana 73,1 miliar dolar AS secara global — setara dengan 57,9% dari total pendanaan modal ventura di seluruh dunia. Lonjakan ini sebagian besar dipicu oleh putaran pendanaan besar seperti penggalangan dana 40 miliar dolar AS oleh OpenAI, yang memicu kejar-kejaran investor untuk tidak ketinggalan tren AI.
Namun Yeo memperingatkan bahwa pasar mungkin menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap kemampuan teknologi AI saat ini. “Ekspektasi pasar bisa jauh melampaui apa yang sebenarnya bisa disampaikan oleh teknologi ini,” katanya. “Kita sedang melihat ledakan besar investasi belanja modal (capex) untuk AI hari ini, dan itu menutupi beberapa potensi kelemahan yang mungkin sedang terjadi di ekonomi global.”
Pandangan serupa juga diutarakan oleh Todd Sisitsky, Presiden manajer aset alternatif TPG Inc., yang menyebut fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan investor sebagai hal yang berbahaya.
“Rasa takut ketinggalan bisa membuat investor mengambil keputusan yang tidak rasional,” ujar Sisitsky. Meski begitu, ia menambahkan bahwa masih ada perbedaan pendapat di kalangan investor mengenai apakah sektor AI benar-benar sudah membentuk gelembung atau belum.
Sisitsky mencontohkan, ada perusahaan AI yang berhasil meraup pendapatan hingga 100 juta dolar AS hanya dalam hitungan bulan, tetapi ada pula perusahaan tahap awal yang memperoleh valuasi fantastis antara 400 juta dolar AS hingga 1,2 miliar dolar AS per karyawan. “Angka itu sungguh luar biasa,” katanya.
Para pengamat menilai bahwa tren ini menunjukkan gairah luar biasa terhadap AI, namun juga menyiratkan risiko overvaluasi yang pernah terjadi dalam gelembung teknologi sebelumnya. Para investor kini dihadapkan pada dilema antara mengikuti euforia pasar atau menjaga disiplin investasi di tengah booming AI global.