Bitcoin Melemah Pasca Pemangkasan Suku Bunga The Fed, Tren Positif Masih Ada?
JAKARTA - Sepekan pasca bank sentral AS, The Fed, memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, harga Bitcoin masih bergerak volatil dan bahkan sempat turun ke level 109.650 dolar AS (Rp1,84 miliar) pada pagi hari ini.
Pergerakan ini menimbulkan pertanyaan menarik. Sebab, rendahnya suku bunga biasanya mendorong aset berisiko seperti kripto dan saham untuk naik.
Merespon kondisi tersebut, Fahmi Almuttaqin sebagai Analyst Reku mengatakan bahwa penurunan harga Bitcoin dan Ethereum saat ini disebabkan oleh pasar kripto yang sudah mengantisipasi pemangkasan suku bunga jauh sebelum pengumuman resmi pekan lalu.
“Likuiditas jangka pendek sempat mengalir deras ke aset risk-on, termasuk Bitcoin dan altcoin, sehingga ketika keputusan akhirnya keluar, sebagian investor justru melakukan aksi profit taking,” jelasnya.
Terlebih lagi, meskipun The Fed memangkas suku bunga, data neraca keuangan The Fed menunjukkan bank sentral tersebut sebenarnya belum agresif memperluas likuiditas.
Meski demikian, Fahmi melihat kondisi ini cukup suportif untuk menunjang proyeksi positif Bitcoin dan pasar kripto secara umum di sisa tahun ini.
“Meskipun masih banyak ketidakpastian, termasuk namun tidak terbatas pada risiko shutdown pemerintah AS, outlook pemangkasan suku bunga lanjutan sebanyak dua kali, mengacu hasil jajak pendapat dot plot pada FOMC pekan lalu dapat memberikan sentimen positif bagi pasar kripto khususnya jika didukung oleh kondisi inflasi yang stabil,” imbuhnya.
Baca juga:
Menurutnya, di tengah masih relatif solidnya tren akumulasi investor institusi dan potensi berkembangnya adopsi ETF altcoin, Bitcoin dan Ethereum berpeluang kembali mencetak new all time high.
Namun, ia menegaskan jika skenario downside tetap ada, seperti terjadinya shutdown pemerintah AS yang dapat memicu tekanan arus kas jangka pendek serta pemangkasan lapangan pekerjaan dalam skala besar.
“Selain itu potensi lonjakan inflasi atau mulai menguatnya dolar, juga dapat memicu berkembangnya sentimen negatif dengan risiko koreksi Bitcoin ke bawah 100.000 dolar AS (Rp1,67 miliar),” lanjut Fahmi.