8 Faktor yang Memengaruhi Resiliensi atau Ketangguhan Beradaptasi pada Masa Sulit

YOGYAKARTA – Resiliensi atau ketangguhan tidak tumbuh dengan sendirinya. Dengan sejumlah hal yang memengaruhinya, termasuk hubungan, penciptaan makna, daya cipta, terbentuk ketangguhan secara keseluruhan, bukan hanya ketangguhan mental. Mengutip penjelasan terapis trauma dan penulis Laura Copley, Ph.D., resiliensi adalah tentang beradaptasi dengan baik. Dengan begitu, kita mampu terlibat dalam kehidupan, mengatur emosi, dan menemukan makna bahkan pada kondisi stres kronis, trauma, ataupun di tengah pesatnya perubahan. Berikut perlu dipahami, faktor yang memengaruhi resiliensi atau ketangguhan beradaptasi dalam masa sulit.

1. Neuroplastisitas dan biologi

Ketahanan berakar pada neuroplastisitas dan biologi. Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, dan mereorganisasi dirinya sendiri baik secara struktural maupun fungsional sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, atau cedera.

Ini menandai bahwa otak dan tubuh berperan dalam respons trauma. Artinya, bukan takdir apabila seseorang merasa terpuruk. Para praktisi dan terapis psikologi menyarankan, menulis jurnal, bersyukur, dan menulis ekspresif dapat mengubah jalur saraf untuk mendukung penyembuhan emosional. Lebih jauh lagi, seseorang mengembangkan resiliensi atau ketangguhan setelah menghadapi masa-masa sulit.

Ilustrasi faktor yang memengaruhi resiliensi atau ketangguhan beradaptasi (Freepik)

2. Pengaturan emosi

Seseorang yang tangguh tahu bagaimana beradaptasi ketika mereka menghadapi rintangan, jelas Copler dilansir Positive Psychology, Rabu, 10 September. Mereka menyesuaikan strategi ketika terjebak. Mereka juga memperkuat fleksibilitas dengan refleksi diri, sadar secara emosional, dan memahami cara memecahkan masalah.

3. Pembingkaian kognitif

Resiliensi sering kali berarti membingkai ulang kesulitan sebagai transformasi, alih-alih kekalahan. Perlu dipahami, menemukan makna dalam rasa sakit memungkinkan diri untuk belajar lebih wawas setelah melewati stres dan trauma.

4. Penguasaan motivasi

Seperti yang kita tahu, orang yang tangguh yang mampu bertahan menghadapi kesulitan. Mereka memandang kesulitan sebagai bagian dari pembelajaran yang membantu membangun efikasi diri dan motivasi setiap kali mencoba lagi.

Ilustrasi faktor yang memengaruhi resiliensi atau ketangguhan beradaptasi (Freepik)

5. Memiliki visi masa depan

Harapan menjadi penopang ketahanan atau resiliensi. Harapan, ialah keyakinan bahwa hidup masih memiliki banyak makna dan bahwa tindakan kita hari ini dapat membentuk masa depan yang lebih baik bahkan di tengah kesulitan.

6. Modal sosial

Ketahanan tumbuh subur dalam koneksi. Orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, mentor, atau jaringan komunitas lainnya meningkatkan kapasitas kita untuk beradaptasi. Orang terdekat juga berperan mendukung seseorang untuk pulih dari trauma.

7. Budaya dan kesetaraan

Budaya membentuk cara kita memahami dan merespons kesulitan. Intervensi yang efektif berarti menghargai praktif penyembuhan, bukan membuat semakin terpuruk. Selain itu, rasa aman, kenyamanan rumah, dan perawatan kesehatan juga kebutuhan mendasar untuk pemulihan. Artinya sekuat apapun batin, tanpa keadilan dan kesetaraan tak akan bertahan mengatasi tekanan.

8. Waktu dan perkembangan

Tahapan kehidupan menjadi titik-titik penting ketika kesulitan melanda. Artinya usia dan pengalaman hidup seseorang berkaitan dengan kesiapan serta perlindungan terhadap tantangan. Oleh karena itu, strategi ketahanan harus disesuaikan dengan tahapan kehidupan.

Setelah mengetahui faktor yang memengaruhi resiliensi atau ketahanan diri dalam menghadapi kesulitan, penting direfleksikan. Dengan memiliki faktor di atas, terbentuk diri yang tangguh baik secara personal maupun kolektif.