Profil Susilo Wonowidjojo, Bos Gudang Garam yang Dikabarkan Lakukan PHK Massal
YOGYAKARTA - Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang dilakukan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengejutkan publik. Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan momen haru para pekerja berseragam merah dan biru bertuliskan PT Gudang Garam menangis, berpelukan, dan berpamitan dengan rekan kerjanya.
Dikabarkan sebanyak 308 buruh terdampak kebijakan efisiensi perusahaan yang dipimpin oleh Susilo Wonowidjojo itu. Hal ini tidak terlepas dari kondisi keuangan Gudang Garam yang sedang tertekan. Diketahui, dalam setahun terakhir, laba bersih perusahaan menurun drastis, dari Rp 5,32 triliun pada 2023 menjadi Rp980,8 miliar pada 2024.
Kekayaan pribadi Susilo Wonowidjojo pun ikut tergerus. Pada 2019, Forbes mencatat kekayaannya mencapai Rp147 triliun, namun pada 2024 tinggal Rp53 triliun. Penurunan lebih dari Rp94 triliun ini menggambarkan beratnya tantangan yang dihadapi industri tembakau.
Di balik gejolak yang terjadi, nama Susilo Wonowidjojo mejadi sorotan publik. Sebagai generasi ketiga keluarga pendiri Gudang Garam, ia membawa tanggung jawab besar mempertahankan perusahaan di tengah persaingan pasar.
Profil Susilo Wonowidjojo
Susilo Wonowidjojo lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 18 November 1956. Ia merupakan anak ketiga dari pendiri Gudang Garam, Surya Wonowidjojo.
Sejak kecil, Susilo hidup dalam atmosfer bisnis tembakau, menyaksikan bagaimana sang ayah membangun kerajaan rokok dari nol hingga menjadi salah satu produsen terbesar di Indonesia.
Keterlibatannya dalam bisnis keluarga dimulai sejak muda. Pada 1979, Susilo mengembangkan mesin khusus untuk meningkatkan efisiensi produksi rokok kretek. Ia juga berperan dalam menghadirkan varian baru seperti kretek mild pada 2002, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan nikotin dan tar lebih rendah.
Bahkan, bersama rekannya Buana Susilo, ia berhasil mematenkan metode pembuatan filter rokok di Amerika Serikat pada tahun yang sama, sebuah pencapaian yang menunjukkan inovasi dan keberanian menjajal pasar global.
Setelah wafatnya Surya Wonowidjojo pada 1985, kepemimpinan Gudang Garam ke anak tertua, Rachman Halim. Dia membawa perusahaan ke masa kejayaan di era 80-90-an. Barulah pada 2009, Susilo Wonowidjojo resmi memimpin PT Gudang Garam Tbk.
Sejak saat itu, Susilo membawa perusahaan melesat dengan mengelola area produksi seluas 208 hektar di Kediri dan Pasuruan. Jumlah pekerja mencapai 36.000 orang, sementara Gudang Garam menguasai sekitar 20 persen pasar tembakau nasional. Forbes pun mencatat kekayaannya sempat mencapai USD9,2 miliar pada 2018, menempatkannya dalam jajaran orang terkaya di Indonesia.
Susilo juga memperluas bisnis Gudang Garam di luar rokok, mulai dari infrastruktur, agribisnis, hingga pariwisata. Pada 2019, perusahaan membangun jalan tol dan kemudian mengembangkan Bandara Dhoho di Kediri.
Baca juga:
Pada 2021, Fortune Indonesia menobatkan Susilo sebagai Businessperson of the Year berkat kiprahnya dalam mempertahankan perusahaan besar dengan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional. Gudang Garam menjadi pilar ekonomi Kediri dengan sumbangan cukai triliunan rupiah dan pembukaan lapangan kerja yang luas.
Meski kekayaannya menurun hingga Rp103 triliun dalam enam tahun terakhir, Susilo tetap bertahan di daftar 25 besar orang terkaya Indonesia versi Forbes 2024. Fakta ini menegaskan bahwa sekalipun diterpa badai, ia masih menjadi figur berpengaruh di dunia bisnis.