Mantap, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Serap Aspirasi Perupa di Kembang Jati Art House

YOGYAKARTA -  Suasana hangat terasa di Kembang Jati Art House ketika Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, berdialog dengan para perupa Yogyakarta, Kamis, 21 Agustus. Tidak ada jarak, hanya percakapan cair yang memotret denyut seni rupa di kota yang disebut episentrum seni Indonesia.

Nama-nama seperti Ekwan Marianto, Meuz Prast, Didath Alwi, hingga kurator Kus Indarto hadir menyampaikan kegelisahan dan harapan. Dari minimnya ruang pamer, mahalnya material, hingga perlunya pencatatan sejarah maestro seni rupa agar local genius tidak hilang dari ingatan bangsa. “Salut, Menteri Kebudayaan mau datang ke galeri di pelosok ini,” ujar Kus Indarto.

Menbud Fadli, yang dikenal sebagai kolektor seni, lebih banyak mendengar. Ia mencatat satu per satu aspirasi, lalu menegaskan komitmen negara memperkuat ekosistem seni rupa. “Kompetisi seni rupa perlu digagas kembali dengan hadiah yang signifikan. Selain itu, dokumentasi sejarah seni rupa harus ditulis, agar linimasanya tidak terputus,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung Dana Indonesiana yang Oktober mendatang kembali dibuka untuk komunitas seni, terutama yang belum pernah tersentuh bantuan. Program lain seperti Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dan Belajar Bersama Maestro (BBM) turut ia dorong sebagai jembatan interaksi antara siswa dan seniman.

Aspirasi khusus pun muncul, dari forum pameran bagi seniman berkebutuhan khusus hingga ruang kompetisi tanpa batas usia. Menanggapi itu, Fadli menekankan pentingnya inovasi. “Seniman juga perlu memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk memperluas jaringan,” katanya.

Pertemuan ditutup dengan janji Fadli membuka ruang lebih besar bagi karya-karya perupa Indonesia tampil di panggung nasional hingga ajang internasional seperti Venice Biennale. “Yang utama adalah pencapaian artistiknya. Kita harus memastikan karya mendapat ruang, perhatian, dan apresiasi yang layak,” tegasnya.

Dialog di Kembang Jati Art House ini menegaskan satu hal: seni rupa bukan sekadar ekspresi, tetapi denyut kehidupan yang harus dijaga bersama antara negara dan komunitas.